Jumat, 26 Agustus 2022

KONEKSI ANTAR MATERI

MODUL 1.4

“SEGITIGA RESTITUSI”

Oleh:

Robiatul Ilmiyah, S.Pd.

Calon Guru penggerak Angkatan 5

Kabupaten Pekalongan



Salam dan Bahagia.
“Pendidikan diartikan sebagai tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak; menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat”
(Ki Hajar Dewantara)

Pemikiran Ki Hajar dewantara tentang pendidikan yaitu melingkupi kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan “sifat” dan “bentuk” lingkungan dimana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan “isi” dan irama”. Kedua kodrat ini berkaitan dengan nilai-nilai dan sifat-sifat kemanusiaan murid. Bila melihat kodrat zaman saat ini, pendidikan global mengharuskan manusia (murid) untuk bisa memiliki ketrampilan abad 21. Ki Hajar Dewantara menenkankan kepada kita untuk mendidik anak sesuai dengan kodratnya sekarang. Bukan lagi menyamakan dengan kodrat zaman pada waktu kita kecil dulu. Konsep pemikiran Ki Hajar Dewantara sangat menginspirasi dan menambah wawasan pengetahuan dan semangat saya untuk meninggalkan paradigma lama dalam mengajar. Sebagai seorang guru saya harus bisa mencerminkan pemikiran Ki Hajar Dewantara yaitu menerapkan merdeka belajar untuk murid-murid saya. Kemerdekaan belajar untuk bisa memberikan rasa senyaman mungkin dengan rasa bahagia tanpa ada tekanan. Memberikan pendidikan yang berpusat pada murid yang dapat membantu tumbuh kembang murid sesuai dengan profil pelajar pancasila.

Sebagai seorang calon guru penggerak saya dituntut untuk memiliki peran yang mampu membawa murid-murid saya untuk bisa memnjadi manusia atau insan yang sesuai degan profil pelajar pancasila, yaitu beriman dan bertaqwa, mandiri, kreatif, inovatif, berkebhinekaan global dan gotong royong.

Sejauh ini dalam memberikan pendidikan kepada murid saya masih sering menggunakan hukuman sebagai langkah untuk mendisiplinkan anak. Akan tetapi setelah saya mengikuti PGP ini dan belajar modul 1.4 tentang segitiga restitusi saya merasa malu terhadap diri saya sendiri. Saya menjadi tersadarkan bahwa hukuman bukanlah satu hal yang ampuh untuk menjadikan murid kita disiplin. Mereka justru merasa takut jika melakukan kesalahan dari peraturan yang dibuat secara sepihak oleh instansi atau sekolah. Ha ini mampu menimbulkan tekanan kepada murid-murid sehingga konsep merdeka belajar belum begitu mengena pada anak. Melalui segitiga restitusi saya belajar, bahawa kedispinan bisa tercipta melalui kesepakatan/keyakinan kelas yang dibuat bersama-sama dengan seluruh warga kelas/sekolah. Dimana ha ini tentu melibatkan murid sebagai pusat dari proses  pembelajaran sesuai filosofi Ki Hajar Dewantara. Kesepakatan/keyakinan yang telah dibuat akan membawa murid pada konsep merdeka belajar, dimana jika ditengah perjalanan mereka melanggar kesepakatan/keyakinan tadi maka bukan lagi hukuman yang akan mereka dapat melainkan restitusi.

Restitusi adalah sebuah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004)

Melalui restitusi, ketika murid berbuat salah, guru akan menanggapi dengan cara yang memungkinkan murid untuk membuat evaluasi internal tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan mereka dan mendapatkan kembali harga dirinya. 

Ada 5 program disiplin positif ( posisi control restitusi ) yang berpusat pada murid yang dikembangkan oleh Gossen, yaitu

1.      Penghukum,

2.      Pemberi rasa bersalah

3.      Teman

4.      Pemantau

5.      Manager

Kesimpulannya, saya selaku guru harus mampu mengamalkan filosofi Ki hajar Dewantara, menjalankaan peran sebagai guru penggerak yang memiliki nilai-nilai baik kemandirian, kolaboratif, berpihak pada murid, maupun inovatif sehingga apa yang menjadi visi sekolah bisa terwujud. Di dalam visi sekolah ada harapan agar budaya positif tampak nyata diimplementasikan bersama warga sekolah.

  1. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif, teori kontrol,  teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Adakah hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan?

Hal menarik dan di luar dugaan setelah saya mempelajari modul 1.4 ini adalah bahwa ternyata untuk bisa menciptakan disiplin positif itu sebenarnya mudah. Tanpa harus menyuruh-nyuruh anak dan tanpa marah kepada anak itu bisa dilakukan dengan mudah yaitu diawali dari diri kita sendiri dulu. Sebenarnya bukan sulit, hanya kitanya saja yang malas untuk bergerak dan tidak tersadarkan lebih cepat. Dan saya pun malu dengan diri saya senidiri, karena saya menginginkan murid-murid saya itu tertib, disiplin, tetapi saya sendiri terkadang masih belum disiplin, meskipun saya faham tentang filosofi pak Ki Hajar Dewantara “ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karso”

  1.  Perubahan apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah Anda setelah mempelajari modul ini?

Perubahan yang terjadi tentang cara berfikir saya dalam menciptakan budaya positif adalah

-       Saya akan mengevaluasi/merefleksikan diri saya sendiri  mengenai budaya positif yang saya terapkan selama ini

-       Tidak lagi menerapkan hukuman sebagai sarana untuk mendisiplinkan murid, melainkan dengan menggunakan segitiga restitusi mengembalikan mereka pada kesepakatan/keyakinan kelas/sekolah

-       Menerapkan posisi control manager ketika ada murid yang melakukan kesalahan baik di kelas maupun sekolah

             3.      Pengalaman seperti apakah yang pernah Anda alami terkait penerapan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda?

Salah satu pengalaman saya adalah ketika ada salah satu murid saya yang merasa enjoy dikelas mengikuti pelajaran dengan posisi sepatu dan dasi dilepas. Pada kasus ini saya tidak memberikan hukuman tetapi saya memposisikan diri sebagai pemantau yaitu bertanya apakah dia masih ingat dengan kesepakatan yang sudah dibuat dan harus ditaati selama belajar di kelas. Saya juga menanyakan alasan kenapa ia melepas sepatu dan dasi di dalam kelas dan menanyakan rencana apa yang akan ia lakukan untuk melakukan perubahan diri.

  1. Bagaimanakah perasaan Anda ketika mengalami hal-hal tersebut?

Ketika saya dihadapkan dengan kejadian tersebut saya bingung, apakah saya akan memberikan hukuman, konsekuensi atau restitusi. Kemudian saya mengingat modul 1.4. dan saya mencoba untuk melakukan restitusi dengan posisi sebagai pemantau kepada murid saya tersebut.

  1. Menurut Anda, terkait pengalaman dalam penerapan konsep-konsep tersebut, hal apa sajakah yang sudah baik? Adakah yang perlu diperbaiki?

Hal baik : memberikan motivasi dan semangat untuk lebih tertib lagi.

Hal yang perlu diperbaiki        : sikap sebagai guru dalam posisi control yang benar

Menerapkan pemahaman segitiga restitusi secara utuh dalam penyelesaian masalah.

 

             6.      Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid, berdasarkan 5 posisi kontrol, posisi manakah yang paling sering Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda saat itu? Setelah mempelajari modul ini,  posisi apa yang Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda sekarang? Apa perbedaannya? 

Posisi yang sering saya pakai adalah penghukum, pembuat merasa bersalah dan teman. Perasaan saya saat itu merasa benar dan sudah tepat dengan memberikan hukuman, perasaan bersalah atau juga teman ketika ada murid yang bersalah. Dengan memberikan hukuman atau perasaan bersalah saya berfikir bahwa saya telah berhasil membuat mereka merasa takut sehingga mereka tidak menegulangi kesalahnya kembali.

Setelah saya mempelajari modul ini saya menerapkan posisi manager dan saya merasa saya telah menerapkan pembelajarn yang merdeka dengan tidak memberikan tekanan kepada murid melainkan dengan mengajaknya mengingat kesepakatan maupun keyakinan yang sudah dibuat bersama-samama.

 

       7.      Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda? Jika iya, tahap mana yang Anda praktekkan dan bagaimana Anda mempraktekkannya?

Sebelum saya mempelajari modul ini saya pernah menerapkan segitiga restitusi yaitu ketika ada dua murid saya yang tiba-tiba ribut di kelas pada saat jam pelajarn berlangsung. Disitu saya berusaha menstabilkan identitas dan menanyakan alasan mereka berbuat demikian dan menanyakan kesepakatan kelas.

  1. Selain konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?

hal-hal lain yang menurut saya penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah adalah bagaimana cara menumbuhkan kesadaran pada masing-masing individu sehingga dari yang sebelumnya pernah melakukan kesalahan, menjadi benar-benar tidak mengulangi kesalahannya.



RANCANGAN TINDAKAN UNTUK AKSI NYATA

JUDUL                                   : MEMBUAT KEYAKINAN SEKOLAH

NAMA PESERTA                 : ROBIATUL ILMIYAH, S.Pd.

 

v  LATAR BELAKANG

Salah satu bagian dari budaya positif adalah keyakinan sekolah. Keyakinan sekolah merupakan nilai kebajikan universal yang dibuat dan dijalankan bersama sebagai wujud kesepakatan bersama atas tujuan bersama. Keyakinan sekolah merupakan hal baik yang akan mampu menciptakan budaya positif yang hidup dan berada di lingkungan sekolah.

 

v  TUJUAN

-          Memberikan pengalaman kepada seluruh warga sekolah untuk terlibat secara langsung dalam membentuk budaya positif di sekolah melalui keyakinan sekolah.

-          Memberikan wadah kepada murid untuk mengungkapkan keinginan dan perasaan dalam proses pembelajaran sehingga tercipta pembelajaran yang berpihak kepada murid.

-          Menciptakan murid sebagai pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, disiplin dan berkarakter melalui budaya positif “keyakinan sekolah”

v  TOLOK UKUR

-          Terciptanya suasana demokratis dalam pembuatan keyakinan sekolah

-          Terakomodasinya gagasan, perasaan, dan harapan murid sebagai profil pelajar pancasila

-          Terwujudnya keyakinan sekolah yang disepakati bersama antara murid dan guru

v  LINIMASA TINDAKAN YANG AKAN DILAKUKAN

-          Mengsosialisasikan tentang rancangan aksi nyata kepada kepala sekolah dan rekan sejawat

-          Menyusun kesepakatan sekolah bersama siswa

-          Melaksanakan kesepakatan sekolah dalam kehidupan sehari-hari

-          Melakukan refleksi dan evaluasi keseluruhan

v  DUKUNGAN YANG DIBUTUHKAN

-          Dukungan moral maupun spiritual baik dari kepala sekolah maupun rekan sejawat

-          Komitmen siswa untuk konsisten melaksanakan keyakinan sekolah demi terwujudnya budaya positif.

 

Sekian dan terima kasih

Salam sehat dan bahagia

Salam guru penggerak!!!

 

 

 

2 komentar:

Novel Februari Ceria hari Ke-28 "Sebuah perjalanan Yang Mereka Sebut Guru Penggerak"

  PENGUMUMAN SELEKSI TAHAP II Desis angin malam itu terasa dingin seolah menusuk tulang masuk menembus melalui lubang jendela rumah Sovia....