Sabtu, 01 Oktober 2022

 

“MENULIS PUISI”

Oleh ROBIATUL ILMIYAH

Kelas Belajar Menulis PGRI

Pertemuan Ke-18

Hari / Tanggal             : Jum’at / 30 September 2022

Moderator                   : Dail Ma’ruf

Narasumber                 : Dra. E. Hasanah, M.Pd.

 


Hari ini sudah memasuki awal di bulan Robi’ul Awal, bulan kelahiran nabi Muhammad SAW, hampir semua masjid dan mushola ditempat saya turut meramaikan bulan kelahiran Nabi dengan membaca berjanji. Suara speker mushola dan masjid saling bersautan penuh irama. Beruntung kelas belajar menulis PGRI ini dilaksanakan secara daring via WA grup. Saya bisa belajar mengikuti grup seraya mendengarkan alunan sholawat Nabi yang merdu, karena alhamdulillah rumah saya bersebelahan dengan mushola. Jadi tampak jelas suara itu terdengar oleh saya. Sesekali mulut saya pun terbuka mengikuti alunan sholawat.

Kelas belajar malam ini dibuka dengan membaca do’a oleh moderator yang tak asing oleh kita, yaitu Bapak Dail Ma’ruf dengan narasumber Ibu Dra. E. Hasanah, M.Pd. Ibu E. hasanah adalah perempuan luar biasa. Beliau baru menyelesaikan S3 dalam ilmu pendidikan prodi manajemen pendidikan sesuai dengan tugas sebagai pengawas pada Madrasah Aliyah. Seorang wanita yang telah berhasil menyelesaikan S3 dan sangat gemar menulis puisi. Dan salah satu prestasi dari beliau juga beliau pernah masuk nominator pengawas berprestasi tingkat nasional.

Berikut adalah contoh karya dari beliau,. buku solo dan 72 buku antologi bersama penulis2 alumni BM asuhan Om Jay.



Puisi adalah sebuah karya seni sastra yang tersusun dari bermacam-macam unsu-unsur dan sarana kepuitisannya.Puisi selalu berubah-rubah sesuai evolusi seleradan perubahan konsep estetiknya. Jadi puisi itu  karya sastra yang diucapkan dengan perasaan dan memiliki gagasan/pikiran serta tanggapan terhadap sesuatu. Seseorang bisa mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan yang merangsang imajinasi panca indera kita dalam susunan yang berirama.

Struktur fisik puisi:

1.      Bentuk              : berbentuk baris – bait

2.      Diksi                : pemilihan kata indah dan memiliki kekuatan makna

3.      Majas               : bahasa kias untuk mengungkapkan isi hati penyair

4.      Rima                : persamaan bunyi di akhir baris untuk memunculkan keindahan bunyi.

Jenis-jenis puisi :

1.      Puisi Lama      : puisi yang masih terikat oleh aturan-aturan yaitu jumlah kata dalam 1 baris, jumlah baris dalam 1 bait, persajakan ( rima ), banyak suku kata disetiap baris.

Ciri-ciri puisi lama :

a.       Tidak diketahui nama pengarangnya

b.      Penyampaian dari mulut ke mulut ( lisan )

c.       Terikat dengan aturan ( jumlah baris di tiap bait )

2.      Puisi baru        : puisi yang tidak terikat oleh aturan, bantuknya lebih bebas drai puisi lama. Ciri – ciri puisi lama :

a.       Memiliki bentuk yang rapi dan simetris

b.      Persajakan akhir teratur

c.       Sebagian besar puisi empat seuntai ( baris )

Rangkuman dari beberapa jawaban pertanyaan pada pertemuan kai ini diantaranya yaitu :

1.      Untuk puisi bebas tidak ada ketentuan tentang bait. Jadi kita bebas mau menuliskan berapa bait.

2.      Trik membuat puisi itu yang narasumber rasakan adalah adanya rasa suka dulu terhadap puisi, baru kita melihat tips membuat puisi seperti menentukan tema dan judul, merangkai kata dengan diksi dan rima yang tepat, memakai majas, menentukan bait dan menggunakan imajinasi untk mengembangkannya.

Berikut ada salah satu puisi karya Pujanga Dr. Nastain  yang  bisa kita simak :

Dalam remang senja aku teringat

Ketika rasa itu menjelma

Aku terbuai dengan merdu suaramu

Termenung menyaksikan senyum terindah

Sampai menuju suatu arah

Yang membawaku larut dalam resah

Resah memikirkanmu aku terperangah

Pandangan itu membuatku melayang

Hingga pada titik dimana aku sedang tidak mengerti

Mengapa aku seperti ini

Bahwa cinta masih menguasaiku

Rasa ini mengalir tiada henti

 

Tatapan itu selalu menjadi candu untukku

Tatapan yang menyiratkan sebuah rasa yang tak aku tau

Tapi aku dapat merasakan rasa yang sedang ia rasakan

Semoga ini bukan hanya feeling

Tapi ini nyata dan segera terjadi.

 

Dulu aku kira kau hanya akan aku jadikan pelampiasan

Tapi sekarang, perasaan itu tumbuh tanpa aku sadari

Dan semoga kau bahagia mendengarnya

Karena saat ini kau bukan lagi pelampiasan

Melainkan rumah menetap ternyaman bagiku.

 

Tuhan

Bolehkah aku beristirahat sekejap saja?

Aku lelah dengan semua ini

Ingin pergi tapi tak mampu

 

Apakah aku tak ditakdirkan untuk bahagia?

Kenapa setiap kali aku bahagia selalu saja di hancurkan?

Bahkan mereka tak pernah mengharapkan kehadiranku

Apakah aku ini tak berguna?

 

Aku ingin pergi

Aku ingin bahagia dan merasakan ketulusan dari seseorang

Kenapa aku selalu di patahkan?

Kenapa aku harus di hancurkan?

Kenapa aku tak di anggap ada?

 

Jika mereka tak ingin aku ada

Kenapa mereka merawatku

Aku tak pernah berharap dilahirkan

Aku tak pernah berharap tuk di cintai

Aku tak pernah berharap tuk di hargai

Karena aku hanya akan menjadi beban hidup mereka

 

Dalam janjiku kala itu

Akan ku kunci hatiku untuk siapapun

Tapi kau hadir menaburkan rindu

Membuatku tanpa sadar menjadi candu

 

Canduku akan rindumu

Rindu yang katamu tak lagi bersuara merdu

Kala kekasih hati tak membalas salammu

Rinduku padamu juga tak sampai, tapi hatiku tak 'kan gentar

 

Bisakah cinta mempersatukan disaat rindu berlainan?

Bisakah hidup jadi sempurna disaat tanpamu, dayita?

Dayita kalbu katanya

Berirama layaknya lagu asmara

 

Aku hanya mampu menyuarakan pada Tuhan

Perihal rasa yang tumbuh tanpa pegangan juga perihal rindu yang tak terbalas karena berbeda perasaan

Rasaku ditanggung sendiri tak mau di ungkapkan

Mungkin sampai waktu yang menyingkap takdir kehidupan

 

Harap dan rasa mencuat

Beku, ngeri, menyayat hati

Kupikir dunia itu indah

Nyatanya semua semu belaka

 

Amaraloka

Cinta, kasih, hati, romansa

Akankah bisa tanpa bhama?

 

Kupinang kalbu merenggut malam syahdu

Memejamkan mata membina romansa

Saban hari bersama rasa

Kuagungkan cinta dalam amaraloka

 

Aduhai kasih dan sayang yang kian membara

Kupinta satu tuk jangan mendua

Kupinta dua tuk jangan mementingkan bhama

Kupinta banyak untuk saling menjaga dalam amaraloka

Semoga tetap bersama sampai ajal tiba.

 

Ada sapa yang tak bernama

Mengoceh ulah membual makna sayang

Menggaruk isi kepalaku

Lalu, langsung menggoda I love You

 

Dari kelam yang pernah surut

Pada badai yang menerjalkan kapal

Hingga harap setinggi tempat bintang

Ternyata belum setahun sudah dihilang

Oleh wanita penggoda perebut tuan

 

Mungkin saja, kau macan yang liar

Hingga takdir meredupkan rasaku tanpa pijar

Mungkin saja, ada yang datang lalu menghibur

Sebab insan yang tak berarah

Berkeliaran memburu kedamaian

 

Dari sebuah pergi, di sini lahir rindu yang suci. Mungkin, hanya ini yang bisa kujaga abadi, tak lekang macam cintamu yang layu ketika diuji. Rindu ini tak kubiarkan mati, meski legam dibakar sepi.

Rindu ini tak kubiarkan mati,

sebelum masa memutus nadi.

Rindu ini tak kubiarkan kau ambil kembali, sekalipun kau tawarkan kata kembali.

Rindu ini entah kapan mati, sekalipun kupinta ia abadi. [Nasta'in]

 

Menurut narasumber, Puisi pak Dr Nastain semua bentuknya bebas. puis di atasa dalah jenis puisi yang tidak terikat. Berupa  ungkapan perasaan dan indah.Rima itu bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau kata untuk memperindah puisi dan menggambarkan perasaan penulisnya.bait puisi pujanga Nastain juga kadang 4-5 bahkan 6.

Rima itu bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau kata untuk memperindah puisi dan menggambarkan perasaan penulisnya. Sedangkan irama adalah pengulangan bunyi yang biasanya tersusun rapih. Kalau Matra adalah ukuran banyaknya tekanan irama. Larik itu baris dalam puisi, bisa satu kata, bisa frase, bisa pula sebuah kalimat.

 

Berikut adalah contoh puisi karangan penulis sendiri :

Aku dan Duniaku

Aku yang kini terlahir oleh ibuku

Ibuku yang dengan susah payah membesarkanku

Ditengah deru ombak dan deru angin kehidupan

Dengan penuh sayang harapnya melekat pada diriku

Aku bukanlah anak  sultan yang punya segala sedari ku lahir

Aku hanyalah anak desa yang harus meraskan terik dahulu

Demi tercapai angan dan mimpi

Berjuang meneruskan harap ibu

Ku teruskan hidup ini dengan berdiri di kaki sendiri

Tak mengapa mereka tak menyapa dan mengajakku

Mungkin karena aku berbeda dimata mereka

Tak sama dengan mereka

Tapi inilah hidupku

Hidup diatas keyakinan dan penuh semangat

Demi sebuah mimpi


#Pekalongan, 30 September 2022

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Novel Februari Ceria hari Ke-28 "Sebuah perjalanan Yang Mereka Sebut Guru Penggerak"

  PENGUMUMAN SELEKSI TAHAP II Desis angin malam itu terasa dingin seolah menusuk tulang masuk menembus melalui lubang jendela rumah Sovia....