Sabtu, 22 Oktober 2022

 

Menulis Buku Biografi

Oleh Robiatul Ilmiyah



Kelas belajar menulis bareng PGRI

Angkatan ke – 27

 

Hari / Tanggal             : Senin / 17 Oktober 2022

Pertemuan                   : 25

Moderator                   : Bpk. Bambang Purwanto, S. Kom., Gr.

Nara Sumber               : Ibu Lely Suryani, S. Pd. SD

Tema                           : Menulis Buku Biografi


Selamat malam teman-teman, semoga kesehatan dan kebahagiaan senantiasa menyertai teman-teman bloger dimana pun berada. Amin

Kelas Belajar Menulis PGRI Gelombang 27 kali ini sudah mencapai pertemuan ke 25. Kelas kali ini yang bertugas sebagai moderator adalah Bpk. Bambang Purwanto, S. Kom., Gr., yang biasa di panggil Mr. Bams. Beliau adalah seorang Guru Informatika di SMP Taruna Bakti.

Narasumber pada kesempatan kali ini adalah Bunda Lely Suryani, S.Pd. SD yang Lahir di Desa Berta, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara pada tanggal 25 Juli 1972. Menempuh masa Pendidikan  Dasar di SD N II Berta, lulus pada tahun 1985  kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Purwareja Klampok selama 2 tahun,  dan pindah ke SMP Negeri 3 Banjarnegara selama 1 tahun sampai lulus pada tahun  1988.  Pendidkan SMA di  tempuh melalui Pendidikan Kejar Paket C, lulus pada tahun 2004. Setelah itu,  melanjutkan Pendidikan D II PGSD di Universitas Terbuka, lulus pada tahun 2008, kemudian mengikuti Pendidikan S1 PGSD di Universitas Terbuka, lulus pada tahun 2012.

Materi yang disampaikan oleh naraumber pada kali ini adalah tentang menulis menulis buku biografi.

Pernahkah membaca kisah tentang orang-orang terkenal, orang-orang yang hebat, yang dapat memberikan kita inspirasi, memberikan kita motivasi, serta memberikan kita gambaran tentang apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Kisah tersebut tertuang dalam bentuk buku. Buku yang berisikan tentang suatu proses atau pengalaman orang-orang terkenal dan hebat. Mereka membagikan kisahnya maupun pengalamannya, bahkan membagikan kiat-kiat atau tips bagaimana cara melakukannya agar seperti mereka. Ya, buku itu merupakan buku biografi dari orang-orang hebat dan terkenal tersebut.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), biografi adalah riwayat hidup (seseorang) yang ditulis oleh orang lain. Sementara menurut Wikipedia, biografi adalah karya sastra yang berisikan riwayat hidup seorang tokoh ternama. Biografi berasal dari bahasa Yunani yakni dari kata bios dan grafien. Kata bios berarti hidup dan grafien berarti menulis, sehingga biografi memuat riwayat hidup yang berisi prestasi istimewa seseorang.

Sehubungan dengan materi yang akan disampaikan pada kali ini, narasumber menjelaskan tentang buku biografi yang baru saja diselesaikannya yang akan segera diterbitkan yang berjudul “50 Tahun Lebih Dekat Dengan Om Jay”. Dari sini jadi sudah diketahui bahwa Biografi itu adalah riwayat hidup seseorang yang ditulis oleh orang lain. Berbeda dengan Autobiografi yang merupakan riwayat seseorang yang ditulis oleh dirinya sendiri. Berikut buku yang ditulis oleh narasumber yang segera terbit.


Narasumber menjelaskan bagaimana cara menulis biografi yang baik, karena yang ditulis adalah bukan tentang diri sendiri melainkan tentang orang lain. Karena ada ranah-ranah dan privasi yang tidak perlu ditulis. Yaitu :

1.      Meminta ijin kepada yang bersangkutan atau kepada tokoh yang akan dijadikan tulisan

2.      Menentukan bahan tulisan seperti riwayat hidup dari kecil hingga saat ini

3.      Tulisan dibuat secara runtut agar cerita nya mengalir sesuai riwayat

4.      Tidak membuat tulisan yang sifatnya privasi dari tokoh tersebut

5.      Membuat tulisan tentang kebaikan-kebaikannya, motivasi-motivasi dirinya

Berikut adalah bagaimana cara menulis biografi, yang mungkin bisa menjadi masukan buat kita untuk mencoba membuat, diantaranya yaitu : (Dikutip dari halaman web Penerbit Deepublish)

1.   Menentukan Tokoh

Hal pertama yang harus dipikirkan adalah menentukan tokoh yang ditulis. Hal paling dasar adalah harus mencari tahu apakah tokoh tersebut masih hidup atau sudah wafat. Pertimbangan tersebut akan berpengaruh pada tulisan kita.

2.   Menentukan Bahan

Setelah menentukan tokoh yang akan ditulis, langkah selanjutnya adalah melakukan riset untuk menentukan bahan-bahan yang mendukung informasi tulisan. Pada tahap ini, kita dapat berfokus untuk menentukan bahan sebanyak-banyaknya.

3.   Temukan Fakta-fakta Utama

Setelah menemukan semua bahan tulisan, kita bisa menemukan dan memilah fakta-fakta unik, menarik, dan utama dari tokoh. Fakta-fakta tersebut menjadi penting untuk diungkap karena bisa berdampak pada penulisan biografi.

4.   Tentukan Bagian Penting

Dalam penulisan biografi, aspek penting lainnya adalah menentukan bagian penting dari kehidupan tokoh yang kita pilih. Maka dari itu, dalam menulis biografi kita harus menceritakan kisah hidup tokoh secara kronologis.

5.   Menentukan Daya Tarik Tokoh yang Kita Angkat

6.  Terlepas dari terkenal atau tidaknya tokoh yang dipilih, kita juga harus tetap memiliki argumen kuat mengapa tokoh yang dipilih perlu ditulis biografinya.


Pesan narasumber bunda Lely kepada para peserta latihan menulis adalah : 

 “Menulislah dengan hati dan apa adanya, Biarlah waktu yang akan berbicara”. 

 

Demikianlah resume pada pertemuan kali ini. Semoga bermanfaat untuk kita semua. Amin

Salam sehat dan bahagia!

 

 

Menulis di Kala Sakit

Oleh Robiatul Ilmiyah

 

Resume ke-24

Gelombang 27

Tanggal           : 14 Oktober 2022

Narasumber     : Suharto, M.Pd.

Moderator       : Raliyanti

 

Narasumber pada kelas belajar menulis kali ini adalah beliau Pak Suharto, yang biasa dipanggil Cing Ato ini adalah seorang guru di MTsN 5 Jakarta. Beliau masih aktif mengajar dan terus berkarya menerbitkan buku. Beliau juga seorang youtuber dan masuk ke dunia cover buku. Berikut profil dari beliau. 


Kita juga bisa mengunjungi juga tautan channel youtube beliau https://youtu.be/uye6FLj30GU


Gambar di atas adalah foto beliau sekitar tahun 2017.  Awal mula keinginan beliau menulis itu muncul karena adanya kebutuhan sebagai ASN. Beliau membutuhkan karya tulis ilmiah ataupun non ilmiah untuk mempermudah naik pangkat. Apalagi ketika akan naik pangkat ke golongan IV/a persyaratannya wajib harus mempunyai karya tulis ilmiah dan buku penunjang lainnya. 

Kemudian beliau pun mencari pelatihan menulis di media sosial (Facebook). Di sana beliau menemukan pelatihan di Wisma UNJ yang diselenggarakan oleh komunitas sejuta gurublog (KSGN). Beliau bertemu dengan orang-orang hebat yaitu: Om Jay, Bang Namin, Om Dedi dan lain-lain. 


Beliau mengikuti kegiatan KSGN sekitar tiga kali. Dari sanalah, beliau mendapatkan kunci bagaimana caranya menulis. Pada pelatihan pertama beliau mendapatkan ilmu tentang menulis PTK. Pada pelatihan kedua sekitar tgl 27-29 Desember 2016 di Wisma UNJ. Dari sana beliau dapat menulis buku Antologi perdana dengan judul Bukan Guru Biasa.


Pada pelatihan ke-3 tentang public speaking, kebetulan salah satu materinya tentang menulis dan narasumbernya Om Jay. Dari Om Jay, beliau menemukan kunci bagaimana menulis. Itu pun disebabkan beliau bertanya kepada Om Jay. Beliau bertanya tentang bagaimana cara memulai untuk menulis? Apa yang harus ditulis? Dan bagaimana cara mengakhiri sebuah tulisan?

Jawaban Om Jay yang masih diingat oleh beliau, yaitu: Tulis apa yang ada disekitar kita, tulis apa yang kita bisa, tulis materi yang kita kuasai, tulis apa yang kita alami, ide menulis banyak berserakan di sekitar kita, tulis dengan bahasa yang sederhana yang penting pesannya tersampaikan, dan lainnya.

Pertanyaan beliau terpilih sebagai pertanyaan yang mewakili keinginan Om Jay. Alhamdulillah, dapat hadiah dari Om Jay


Pulang dari pelatihan beliau menulis apa yang dikuasai dan alami. Hampir setiap hari menulis satu artikel.  Sambil menulis beliau tidak berhenti mencari Pelatihan menulis lagi lewat medsos.

Suatu hari Beliau melihat ada pelatihan di daerah Cipanas Jawa Barat yang diselenggarakan oleh komunitas menulis Media Guru. Beliau mendaftar pelatihan menulis selama tiga hari dua malam pada tanggal 27-29 Desember 2017.

Hampir dua tahun berturut-turut beliau berkelana mencari ilmu tentang menulis. Meninggalkan anak dan istri dengan biaya lumayan. 


Masya Allah pernah bertemu dengan Bu Erni Wardani (baju hitam) di pelatihan menulis juga. Ternyata beliau murid Om Jay juga.  Dari pelatihan ini terbitlah buku solo perdana dengan judul "Mengejar Azan" buku perdana ini kemudian saya pinta teman untuk melukisnya, lalu saya berikan bingkai dan saya letakkan di depan meja kerja.


Sebuah kebahagiaan tersendiri buat narasumber merasakan bangga mempunyai buku. Teman-teman pun banyak yang mengapresiasi dan membeli buku perdana beliau.  

Namun, semua rasa itu hilang dengan sekejap ketika tiba-tiba tubuh beliau tidak berdaya. Bahkan selama dirawat ketika itu banyak yang mengatakan beliau tidak ada harapan. Dokter sudah pesimis dan mendiagnosa bahwa beliau tidak akan lepas dari ventilator. 


Tiba-tiba pada suatu malam ventilator rusak, beliau sudah pasrah jika malam itu dipanggil menghadap sang maha kuasa. Ternyata pagi-pagi beliau masih hidup. Menurut beliau mungkin di antara penyebab masih bernafas yaitu banyak doa dari orang-orang saleh.

Sebenarnya jika ventilator rusak, beliau sudah lewat. Lebih lanjut bisa dibaca di buku "GBS Menyerangku; Kisah seorang guru bergulat dengan penyakit langkah dengan menulis" yang berminat bisa hubungi narasumber. 


Hampir satu tahun seluruh tubuh tak bergerak, setelah itu mulai satu persatu bergerak. Hari-hari hanya terbaring di tempat tidur. Jenuh, bosan, hampir saja stress. Ketika sedang melamun, tiba-tiba ada suara gawai istri yang tertinggal di rumah. Beliau meminta asisten rumah tangga untuk mengambilkan dan meletakkan di atas dada di alasi bantal lalu tempat tidurnya ditinggikan bagian kepala sehingga bisa melihat gawai.

Beliau coba menyentuhnya, ternyata bisa. Beliau merasa sangat gembira. Ketika istri pulang mengajar, beliau langsung meminta untuk diambilkan gawai yang selama setahun lebih tidak pernah digunakan. Istri langsung membelikan kartu baru. Mulailah beliau melacak Facebook, butuh waktu tiga hari baru terlacak password-nya.

Mulailah beliau menulis kembali. Beliau menulis dengan satu tema, yaitu tentang motivasi hidup. Hampir setiap hari beliau selalu menulis. Malam mencari ide dan ba'da subuh menulisnya. Beliau tidak bisa tidur kalau belum menemukan ide.

Senin sampai Jumat menulis motivasi. Sabtu dan Minggu beliau menulis tentang apa yang sedang saya alami dan rasakan. Semua tulisan beliau share ke Facebook. Banyak yang mengapresiasi dan menunggu tulisan beliau berikutnya.

Tak ketinggalan pula Om Jay sempat kaget dengan apa yang saya posting/share di medsos. Om Jay vicol beliau, padahal suara saya belum jelas. Om Jay mengajak saya untuk ikut pelatihan menulis di gelombang 8. Saya ikuti pelatihan semampu saya.

Ketika itu beliau tidak lulus, karena tidak menyetor resume. Tetapi materinya beliau simpan di blog dan wordpress. Setelah ada waktu senggang baru beliau jadikan buku.

Buku di atas berisi resume para narasumber yang yang beliau tuliskan. 

Berikut ini karya-karya beliau lainnya. 


Narasumber kita, Cing Ato membagikan HIKMAH DARI MENULIS DI KALA SAKIT. 

1. Kedatangan para youtuber (Chanel Akbar Zaenudin "Guru Inspiratif" dan Chanel Sutrisno Muslim "Kesempatan Kedua Mengubahku"


Bisa ditonton di sini https://youtu.be/qhzk01Z7y4w

2. Mendapatkan Penghargaan "Pahlawan Pendidikan" dari Bang Japar Jakarta.


3. Menjadi Narasumber pelatihan menulis di  Komunitas belajar menulis di KSGN PGRI.


Bahkan baru saja sahabat literasi minta beliau mengisi kegiatan menulis di daerah NTT (AGUPENA) Asosiasi Guru Penulis Indonesia. 

4. Banyak punya teman hingga banyak yang bantu menerbitkan buku

5. Banyak teman di tempat kerja yang terinspirasi membuat buku

Selanjutnya beliau belajar desain cover buku sehingga bisa buat untuk sendiri maupun bantu teman


Beliau memberikan kalimat motivasi terkait Menulis di Kala Sakit ini. 


Masya Allah, luar biasa narasumber pada kesempatan kai ini. Sungguh  kisah yang penuh motivasi, perjuangan beliau dalam menulis sungguh menginspirasi. Di tengah kondisi beliau yang ketika sakit, masih bisa berkarya. Yuk, bagi kalian yang masih diberikan nikmat sehat, ataupun nikmat sakit sekalipun. Tetap Semangat dan Pantang Menyerah. Sakit pun bisa Berkarya, Apalagi ketika Sehat. Hal ini mengajarkan kita untuk selalu bersyukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa. Demikian resume pertemuan kali ini, semoga bermanfaat untuk kita semua. Amin

Salam sehat dan bahagia! 

Kamis, 13 Oktober 2022

MENERBITKAN BUKU SEMAKIN MUDAH DI PENERBIT INDIE

Oleh Robiatul Ilmiyah

 

Kelas Belajar Menulis PGRI

Pertemuan ke 20

Hari / Tanggal  : Rabu / 5 Oktober  2022

Moderator        : Rosminiyati

Nara Sumber    :Raimundus Brian Prasetyawan, S.Pd


Assalammu’alaikum Wr. Wb

Semoga Bapak/Ibu semua dalam keadaan sehat dan berbahagia, dan senantiasa diberikan kemudahan dan kelancaran dalam mengikuti kegiatan belajar malam ini.

Malam ini, pada pertemuan ke-20, kembali  kita menemani Bapak/Ibu hebat untuk menggali informasi dari Narasumber hebat di Kelas Belajar Menulis PGRI Gelombang 27.

Materi pertemuan malam ini sebagai referensi kita dalam menerbitkan buku maka peserta akan dibersamai oleh narasumber Raimundus Brian Prasetyawan, S.Pd (alumni BM-4) yang akan mengupas tuntas penerbit Indie yang menjadi rekanan beliau dengan tema “Menerbitkan Buku Semakin Mudah di Penerbit Indie”.

Beliau adalah sosok guru blogger millennial lahir di Jakarta, 30 Juni 1992, tinggal di Bekasi, dan berprofesi sebagai guru SDN Sumur Batu 01 Pagi, Jakarta sejak tahun 2015-sekarang. Berbagai capaian telah diraih beliau terkait blog dan tulisan.

Beliau adalah alumnus Belajar Menulis PGRI gelombang 4 yang mengabdikan diri sebagai pengurus kegiatan Pelatihan Belajar Menulis ini, termasuk menerbitkan sertifikat peserta yang lulus.

Tema malam ini adalah Menerbitkan Buku Semakin Mudah di Penerbit Indie.

Perlu kita pahami, ketika kita berjalan sendiri dalam membuat buku solo. kita menghubungi sendiri penerbitnya dan mengikuti panduan/ketentuan dari penerbit tersebut. Disisi lain mungkin ini pengalaman pertama kita membuat buku. Maka pertemuan malam ini membantu kita agar bisa menjalani langkah menerbitkan buku

Menerbitkan Buku Semakin Mudah karena sekarang ini ada penerbit indie yang melayani penerbitan buku tanpa seleksi. Dahulu ketika penerbit indie belum eksis seperti sekarang, kita hanya tahu bahwa penerbit buku yang ada itu hanya penerbit mayor seperti Gramedia, Grasindo, Erlangga, Elex media, Andi, dan lain-lain.

Penerbit mayor menerapkan seleksi naskah, sehingga belum tentu naskah kita diterima dengan tujuan agar penerbit Mayor mendapat naskah yang benar-benar berkualitas dan diperkirakan akan laku dipasaran. Penulis harus berjuang mencoba mengirim naskah ke beberapa penerbit hingga bisa diterima oleh suatu penerbit mayor. Penolakan naskah menjadi makanan sehari-hari penulis. Ketika naskah diterima pun proses penerbitannya sangat lama.

Kini ada penerbit indie yang bisa menjawab rintangan-rintangan tersebut Naskah pasti diterbitkan.

 

Proses penerbitan mudah dan cepat  di penerbit Indie dalam hitungan bulan saja. Penerbit indie maupun mayor perlu waktu yang tepat untuk penulis. Jadi untuk penulis pemula yang baru pertama kali akan menerbitkan buku, bisa dicoba mengawali di penerbit indie. Bagi penulis pemula  tentu penerbit indie menjadi solusi untuk bisa mewujudkan impian menerbitkan buku karya sendiri.

Memang  kalau di penerbit indie, kita perlu keluar biaya-biaya untuk mendapat fasilitas  penerbitan, atau jika ingin cetak ulang.

Tapi itu memang konsekuensi dari penerbitan tanpa seleksi, sehingga biaya penerbitan menjadi tanggung jawab penulis untuk mendapat fasilitas penerbitan yang memuaskan.

Sebagai tips, berikut ini hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan penerbit indie

·         Biaya penerbitan

·         Fasilitas penerbitan yang di dapat penulis

·         Batas maksimal jumlah halaman

·         Ketentuan dan Biaya cetak ulang

·         Apakah dapat Master PDF

·         Jumlah buku yang didapat penulis

Untuk mengenal daya tarik penerbit indie ini yaitu:

1. Biaya terjangkau, tidak perlu sampai jutaan rupiah

2. jumlah maksimal halaman sangat banyak yaitu 150 hal A4 atau jika dikonversi ke ukuran A5 berarti 300 halaman! Jadi bapak/ibu tidak kena biaya halaman walaupun bukunya setebal 300 halaman A5.

3. Penerbit ini menjualkan buku terbitannya di tokopedia dan shopee

Dalam hal menerbitkan buku memerlukan waktu untuk proses penerbitannya dan bukan seperti fotokopi yang sehari jadi.Dengan kata lain, jangan minta ada deadline kapan buku harus terbit. Misalkan karena untuk kenaikan pangkat, buku diminta agar terbit secepatnya

Prosses peneritan buku itu membutuhkan  perhitungkan waktu, biasanya proses penerbitan sampai 4 bulan jika ISBN. Karena untuk medapatkan lisensi ISBN itu sekarang lama maka dibutuhkan waktu dalam penerbitannya.

Demikian sekilas penjelasan tentang penerbit indie,   pada pertemuan malam ini lebih  kurang saya ucapkan mohon maaf dan semoga ilmu  yang dibagikan bisa bermanfaat untuk dijadikan pedoman dalam menerbitkan buku .

Salam Literasi. Sehat dan bahagia.

Novel Februari Ceria hari Ke-28 "Sebuah perjalanan Yang Mereka Sebut Guru Penggerak"

  PENGUMUMAN SELEKSI TAHAP II Desis angin malam itu terasa dingin seolah menusuk tulang masuk menembus melalui lubang jendela rumah Sovia....