Rabu, 21 September 2022

 

“KAIDAH PANTUN”

Oleh ROBIATUL ILMIYAH

 

Pertemuan ke 14

Hari / tanggal  : Rabu / 21 September 2022

Moderator       : lely suryani, S.Pd.SD

Narasumber     :Miftahhul Hadi, S.Pd.

 

 

Kelas belajar malam ini terasa sangat menarik, bagaimana tidak. Belum mulai materi saja para peserta sudah mulai berbalas pantun sebagai wujud ketertarikan dan semangat belajar dengan tema pada pertemuan ke-14 ini.

 

Pertemuan pada malam ini dengan moderator Bunda lely Suryani dan narasumber Pak Miftahhul Hadi. Ibu moderator ini adalah orang yang pertama kali mengenalkan saya dengan kelas belajar menulis bareng PGRI. Kita bertemu di grup telegram dan whatsap Guru Penggerak Jateng Angkatan 5. Melalui grup whatsap tersebutlah diskusi dan obrolan kami dimulai hingga saling save nomer telfon. Saya bersyukur dipertemukan dengan sosok guru yang aktif seperti bunda lely. Semoga saya bisa terus semangat untuk terus belajar dan melakukan perubahan mengikuti jejak beliau. Amin

 

Narasumber pada pertemuan kali ini adalah beliau Pak Miftahul Hadi. Beliau adalah salah satu guru SD di Kota Demak Provinsi Jawa Tengah. Dan ternyata, beliau juga sama tengah menempuh Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 5. Kembali lagi saya berucap syukur, bertemu dengan orang-orang hebat yang terus semangat untuk kemajuan Indonesia. Bismillah siap untuk terus berproses dan menimba ilmu dari beliau.  

Untuk mengawali pembelajaran pada malam ini, narasumber memberikan pertanyaan pemantik kepada peserta “Apa yang terbersit di pikiran bapak ibu, jika mendengar kata pantun?” kemudian narasumber pun menceritakan kenapa beliau jatuh hati dengan pantun. Alasannya karena senang dengan pantun. Dalam menulis pantun dibutuhkan ketelitian untuk memilih diksi, tidak asal. Jadi harus dipikirkan dulu, mana kata yang pas. Sehingga indah untuk dibaca atau didengar.

 

Pantun identik dengan suku Melayu. Tapi kita juga harus tahu, bahwa setiap daerah di Indonesia juga memiliki pantun.

Sebagai contoh di Mandailing, Sumatera Utara, dikenal dengan sebutan ende-ende.

 

Contoh ende-ende :

 

Molo mandurung ho dipabu,

Tampul si mardulang-dulang,

Molo malungun ho diahu,

Tatap sirumondang bulan.

 

Yang artinya demikian

 

Jika tuan mencari paku,

Petiklah daun sidulang-dulang,

Jika tuan rindukan daku,

Pandanglah sang rembulan.

 

Ada juga di Sunda yang dikenal dengan paparikan.

 

Contoh paparikan

 

Sing getol nginam jajamu,

Ambeh jadi kuat urat,

Sing getol naengan elmu,

Gunana Dunya akhirat.

Yang artinya demikian

 

Yang artinya :

 

Rajinlah minum jamu,

Agar kuatlah urat,

Rajinlah menuntut ilmu,

Bagi dunia akhirat.

 

Contoh dari Jawa Tengah ada parikan

 

Mlaku-mlaku wira-wiri,

Tekan gardhu nyandung watu,

Ngaku-aku dadi tani,

Nyandhak garu jare luku.

 

Yang artinya :

 

Jalan-jalan ke sana-sini,

Sampai gardu tersandung batu,

Jika mengaku sebagai petani,

Pegang Garu dikira luku (bajak).

 

Ada juga parikan dua baris.

Yang sedang hits di telinga.

 

Kelopo cengkir digawe dawet.

Ojo dipikir marai mumet.

 

Yang artinya,

 

Kelapa cengkir dibuat dawet,

Jangan dipikir membuat mumet (pusing).

 

Pada awalnya pantun merupakan tradisi lisan. Seiring berkembangnya waktu, maka pantun "naik kelas". Tidak hanya dituturkan saja dalam kehidupan sehari-hari, pantun kemudian dibukukan, dilombakan dalam berbagai event, serta diselipkan pada tiap kegiatan. Atas kerja keras tersebut pada tanggal 17 Desember 2020 lalu, UNESCO mengakui pantun sebagai warisan budaya tak benda dari suku Melayu. Sehingga setiap tanggal 17 Desember kita peringati sebagai hari pantun.

 

Pantun berasal dari akar kata "Tun" yang bermakna baris atau deret. Asal kata pantun dalam masyarakat Minangkabau dan Melayu diartikan sebagai "pantun". Oleh masyarakat Riau disebut sebagai tunjuk ajar yang berkaitan dengan etika. (Mu'jizah, 2019)



Perbedaan pantun dengan syair

Kalau pantun, antara baris satu dan dua tidak ada hubungannya dengan baris tiga dan empat. Jadi sampiran dan isi berdiri sendiri.

 

Sedangkan syair baris satu sampai empat saling berhubungan.

 

Pantun ada yang singkat hanya 2 baris. Pantun ini disebut karmina.

Contoh karmina

 

Daun keladi susun di gerbong,

Janganlah jadi orang yang sombong.

 

Lalu ada lagi yang namanya gurindam.

Jumlah barisnya juga ada dua.

 

Antar baris satu dengan baris dua saling berhubungan (sebab akibat)

Contoh gurindam

 

Jika selalu berdoa dan dzikir,

Ringan melangkah jernih berpikir.





Lihat baris pertama dan baris ketiga.

 

Kata rebung memiliki persamaan bunyi dengan bergabung.

Kata kuini memiliki persamaan bunyi dengan kata ini.

Lalu lihat baris kedua dengan baris keempat.

Kata talas memiliki persamaan bunyi dengan kata kelas.

Kata seruntun memiliki persamaan bunyi dengan kata pantun.

 

Rebung dengan bergabung, memiliki persamaan bunyi empat huruf. Maka disebut sajak penuh.

halnya, seruntun dengan pantun. Memiliki persamaan bunyi tiga huruf. Juga disebut sajak penuh.

 

Makan sambal sejak kini

Jika suka ikan teri

Mungkin salah saya memperediksi

Jika narasumber sudah beristeri

 

Beda lagi kalau ini

Lihat baris pertama dengan ketiga

Baris pertama berakhiran ni

Baris ketiga berakhiran ri

Hanya sama satu huruf, maka disebut sajak paruh.

 

Sajak berdasarkan posisi/letak. Perhatikan gambar di bawah.




Silakan perhatikan contoh pantun nomor satu dan nomor dua. Nomor satu yang diberi warna merah hanya kata terakhir karena yang memiliki bunyi sama hanya di bagian akhir saja tiap barisnya. Bisa disebut pantun dengan Rima akhir sama.

Perhatikan dengan cermat conton nomor dua. Pantun diberi warna merah terletak pada tengah dan akhir kalimat sehingga disebut pantun dengan sajak tengah dan akhir.

Perhatikan contoh pantun pada gambar berikut:


Perhatikan pantun nomor tiga yang berwarna merah di awal, tengah dan akhir sehingga disebut pantun dengan sajak awal, tengah dan akhir. 

Pantun nomor empat, perlu ketelitian untuk membuatnya. Semua kata di tiap barisnya berwarna merah. Itu artinya, setiap kata memiliki Rima atau persamaan bunyi yang sama. Bisa disebut pantun dengan sajak yang lengkap. Baik letak maupun bunyi akhirnya. Kita lihat baris pertama dengan ketiga dulu. : Dipetik pada baris pertama, sama bunyinya dengan diusik pada baris ketiga. Sirih pada baris pertama, sama bunyinya dengan berkasih pada baris ketiga. Jadi yang diambil "bunyi akhir". Itu yang disebut rima.

Petujuk kedua untuk membuat pantun yaitu menguasai perbendaharaan kata.



Usahakan dalam memilih kata, jangan hanya satu huruf paling belakang yang bunyinya sama, minimal dua huruf. Memiliki perbendaharaan kata dengan Rima sama semakin mempermudah kita dalam menulis pantun. Usahakan membuat baris ketiga dan keempat (isi) terlebih dahulu. Jika isi pantun sudah jadi, maka sampiran akan mengikuti.

Langkah lain membuat pantun yaitu dengan mengindari :

1. penggunaan nama orang
2. penggunaan nama merk dagang
3. pengulangan kata di tiap barisnya..

Jadi kesimpulan kita malam ini adalah pantun dan syair terdiri dari empat baris sedangkan Karmina dan Gurindam terdiri dari dua baris. Jika ingin pandai membuat pantun maka ikuti petunjuk yang sudah disampaikan di atas.

Selamat mencoba dan salam literasi!

 

2 komentar:

  1. Wow, resume yang lengkap dan luar biasa. Terima kasih buu. Semangat berkarya, semangat menginspirasi.

    BalasHapus

Novel Februari Ceria hari Ke-28 "Sebuah perjalanan Yang Mereka Sebut Guru Penggerak"

  PENGUMUMAN SELEKSI TAHAP II Desis angin malam itu terasa dingin seolah menusuk tulang masuk menembus melalui lubang jendela rumah Sovia....