Jumat, 30 September 2022

 

MENULIS BUKU DARI KARYA ILMIAH

Oleh ROBIATUL ILMIYAH


Kelas belajar menulis gelombang 27

Pertemuan  ke-5
Tanggal           :31 Agustus 2022
Tema               : Menulis Buku dari Karya Ilmiah
Narasumber     : Noralia Purwa Yunita, M.Pd
Moderator       : Mutmainah


Malam ini aku masih terus semangat mengikuti kelas belajar menulis bersama orang-orang hebat dari seluruh penjuru nusantara secara daring melalui WA grup. Pertemuan ke-5 ini dengan moderator ibu Mutmainah dan narasumber  ibu Noralia Purwa Yunita, M.Pd,.

Narasumber pada pertemuan ini ibu Noralia Purwa Yunita, M.Pd beliau adalah salah satu pengajar di SMP Negeri 8 Semarang. Beliau juga alumni kelas belajar menulis gelombang 8. Selain mengajar dan aktif berorganisasi, Bu Noralia juga aktif sebagai penulis pada berbagai penerbit. Selain itu Bu Noralia, yang juga menjadi pembimbing ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) SMP, sudah memiliki banyak karya yaitu berupa 17 buku solo dan berbagai artikel Ilmiah.

 

Suatu karya ilmiah ditulis secara sistematis berdasarkan penalaran yang logis sehingga apa yang ditulis oleh penulis sesuai dengan akal sehat dan didukung oleh data yang objektif, menggunakan argumentasi teori yang benar, sahih dan relevan, serta mengaitkan argumentasi empirik dengan teoretis. Beberapa contoh karya ilmiah antara lain skripsi, tesis, artikel ilmiah, laporan penelitian, dan lain-lain. Adalah tidak mudah membuat karya ilmiah karena membutuhkan dana dan curahan pikiran yang tidak sedikit. Namun sayangnya karya ilmiah umumnya hanya tersimpan di perpustakaan saja sehingga pembacanya sangat terbatas.

 

Nara sumber memberikan solusi guna memperbesar manfaat dari suatu karya ilmiah, yaitu dengan mengubah karya ilmiah tersebut menjadi sebuah buku. Beliau menjelaskan beberapa manfaat dari mengubah karya ilmiah menjadi buku antara lain: buku dibaca oleh kalangan lebih luas, buku dapat diperjualbelikan sehingga dapat memberikan keuntungan material, bagi para ASN buku dapat memberikan poin angka kredit yang signifikan, jika buku banyak dibaca maka sang penulis akan lebih dikenal oleh kalangan yang lebih luas, dan dalam bentuk buku ilmu dapat tersebar secara lebih luas.

 

Nara sumber juga memberikan cara untuk mengubah karya ilmiah menjadi buku antara lain mengubah judul, mengubah cara penyajian, memperluas isi sehingga memiliki jumlah halaman yang cukup, menambah referensi. Juga diberikan contoh cara membuat judul yang hanya fokus pada objek penelitian dan ditambahkan dengan kata yang tepat sehingga judulnya menjadi popular dan tidak terlalu ilmiah. Langkah penting lainnya adalah mengubah daftar isi dengan mengikuti pola 2W+1H (why, what, how). Selanjutnya dalam mengubah karya ilmiah menjadi buku, penting sekali untuk memperbanyak isi materi dengan memperluas kata kunci judul buku kita dengan menggunakan sumber referensi yang relevan.

 

Narasumber juga menekankan bahwa penyajian karya ilmiah versi buku adalah berbeda dengan karya ilmiah versi laporan. Penulis memiliki kebebasan dalam membuat susunan dan gaya karena setiap penulis memiliki ide dan kreativitas masing-masing sesuai dengan pengalaman dan bahan bacaannya. Beliau juga menekankan bahwa semakin literat seorang penulis maka akan semakin bagus buku yang dia tulis. Hal ini dikarenakan membaca, berpikir dan menulis adalah satu rangkaian literasi yang tidak dapat dipisahkan. Selain itu, dalam menulis suatu buku dari karya ilmiah harus diupayakan agar pembaca dapat memahami isi buku kita secara lengkap, dan mengena.

 

Nara sumber juga mengatakan bahwa membuat buku dari karya ilmiah bukan hanya mengubah cover dan judul saja, namun isinya harus diperluas. Isi buku yang sama dengan karya ilmiah merupakan suatu kesalahan karena akan menjadi self plagiarisme terhadap karya kita. Struktur dan isi buku harus diperluas tidak sama persis dengan struktur dan isi karya ilmiahnya.

 

Narasumber menutup materinya dengan menyatakan bahwa agar karya ilmiah kita memiliki manfaat yang lebih, maka dapat diubah ke dalam bentuk buku. Fungsinya agar dapat dibaca oleh para pengajar lainnya. Hal ini lebih baik daripada hanya terseimpan sebagai karya ilmiah kita. Jika karya ilmiah dibukukan, selain memberikan manfaat dalam berbagi ilmu, buku karya ilmiah karya kita juga akan memiliki ISBN. Ini sangat penting dan mungkin dibutuhkan bagi pengajar untuk menambah nilai angka kredit. Selian itu, karya kita juga tidak akan lekang oleh waktu tentang kebermanfaatannya.

 

Demikianlah resume pertemuan ke-5 di kelas belajar menulis bareng PGRI dengan tema “Menulis Buku dari Karya Ilmiah”. Terima kasih kepada ibu moderator dan ibu narasumber pada malam ini. Ilmu baru yang sangat bermanfaat dan menambah khazanah keilmuan kita dalam dunia tulis-menulis. 

Semoga bisa menjadi bekal bagi kami dalam berkarya dan bermanfaat untuk orang banyak. Amin 

Salam Literasi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Novel Februari Ceria hari Ke-28 "Sebuah perjalanan Yang Mereka Sebut Guru Penggerak"

  PENGUMUMAN SELEKSI TAHAP II Desis angin malam itu terasa dingin seolah menusuk tulang masuk menembus melalui lubang jendela rumah Sovia....