SEMANGAT DI PAGI HARI
Seperti
biasa, pagi itu Sovia bangun pagi dan menyiapkan segala kebutuhan keluarga
sebelum ia berangkat mengajar. Ya, rutinitas yang mulai digelutinya sejak 10
tahun silam ini ia jalani dengan tulus ikhlas dan penuh bahagia. Menjadi
seorang istri sekaligus sebagai wanita karir adalah impiannya. Menyukai dunia
anak adalah salah satu hal yang menjadi alasan awal ketika ia duduk di bangku
SMA setelah demi mengamalkan ilmu sehingga ia memilih jurusan keguruan di
kuliahnya. Tentu saja hal ini memiliki alasan mendasar kenapa ia menyukai
anak-anak, maklum saja Sovia terlahir sebagai anak bungsu dan ia terlahir dari
keluarga yang ibunya adalah guru ngaji. Setiap malam rumahnya penuh dengan
anak-anak kampung yang datang ke rumahnya untuk belajar mengaji dengan ibunya.
Ketika ibunya berhalangan untuk mengajar, Sovia sering dimintai tolong untuk
membantu ibunya mengajari anak-anak yang masih mengaji mengenali huruf
hijaiyyah. Sedangkan anak lain yang sudah cukup lancar mengaji mereka saling
simak-menyimak bacaan.
“Bund,
sarapan apa sudah siap? “ Tanya Rudi selaku suami dari Sovia.
“Sudah
sayang, sebentar ya” jawab Sovia singkat pada sosok lelaki tinggi yang ia
nikahi sejak 6 tahun silam.
“Sayang,
maaf ya pagi ini cuma bisa masakin nasi goreng sama tempe mendoan”
“Tidak
apa-apa. Asal yang masak istri tercinta pasti aku makan” jawab sang suami
sambil tersenyum.
Waktu
terus berjalan, Sovia pun tiba di Sekolah dan mulai memasuki kelasnya. Materi
pagi itu adalah matematika. Seperti biasa Sovia memulai pelajaran dengan
memberikan afirmasi positif pada murid-muridnya. Ia berharap agar kelasnya
berjalan dengan menyenangkan agar tujuan pembelajaran bisa tercapai sesuai
rencana. Beragam alat peraga pun sudah ia siapkan dengan baik. Sovia dikenal
sebagai guru perempuan yang aktif dan gemar berorganisasi. Bagaimana tidak
aktif, di keluarganya ia dikenal sebagai anak bungsu yang sudah terbiasa
mandiri dengan segala aktifitas. Sejak gadis ia rela melancong mengajar dari
satu sekolah ke sekolah yang lain demi biaya kuliah yang ia tanggung sendiri. Rupiah
demi rupiah ia kumpulkan untuk membayar SPP. Maklum, sebagai anak bungsu dengan
empat bersaudara, ayahnya telah lanjut usia. Sehingga ia harus kuliah sambil
bekerja dan tak sering pula ia berusaha untuk mencari beasiswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar