Seperti
biasa Sovia tiba di sekolah dan menyalami rekan-rekannya. Senyum semangat pun
merekah lebar menyapa setiap orang yang ada di depannya. Sovia adalah guru
kelas IV, dimana waktu itu kelas I dan kelas IV merupakan kelas yang pertama
kali menerapkan kurikulum merdeka. Ya, kurikulum merdeka baru saja diterapkan
tahun itu oleh kemendikbudristek sebagai program yang diharapkan mampu membawa
perubahan menuju lebih baik dan merdeka bagi pendidikan di Indonesia. Berbekal Bimtek
Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) yang ia ikuti beberapa bulan lalu, ia
melangkah dengan jiwa penuh semangat menyambut murid-murid di sekolahnya. Ia pun
tiba di kelas IV dan mulai pembelajaran.
“Selamat
pagi anak-anak?” sapanya lembut penuh hangat pada wajah-wajah polos yang ada di
depannya.
“Selamat
pagi Bu guru” jawab kompak seluruh isi kelas.
“Apa
kabar hari ini? kembali Sovia menyapa seisi kelas.
“Alhamdulilllah
luar biasa tetap semangat Allahu akbar” dengan suara lantang penuh semangat
pula seluruh siswa kelas IV menjawab sapaan gurunya.
Pagi
itu adalah hari kamis mata pelajaran PJOK. Ya, meski Sovia adalah seorang guru
kelas dan bukan guru mapel. Tapi saat itu posisi guru mapel PJOK di sekolahnya tengah
kosong. Jadi mau tidak mau setiap guru kelas harus mau dan mampu mengajar mapel
PJOK.
Setelah
kelas selesai melakukan baca do’a bersama, seluruh siswa pun keluar kelas
menuju halaman sekolah untuk melaksanakan pembelajaran luar kelas sesuai arahan
guru. Ditiupnya peluit sebagai tanda anak-anak harus berbaris di lapangan. Mereka
pun mengikuti arahan dan petunjuk sang guru.
“Baiklah
anak-anak, seperti biasa kita akan melakukan pemanasan terlebih dahulu agar
badan kita siap untuk kita ajak berolahraga nanti”
“Baik
Bu guru”
Pemansan
pun dimulai. Gerakan pemanasan dipimpin oleh Sovia dan tak lupa ia meminta
salah satu muridnya untuk turut ikut berdiri di depan memimpin teman-temannya
memberi contoh gerakan. Gerakan dimulai dari atas kepala, bahu, tangan, pinggul
dan kaki. Usai melakukan pemanasan Sovia mengajak murid-muridnya untuk lari
mengelilingi lapangan badminton dua kali. Setelah selesai melakukan kegiatan
tersebut salah satu muridnya menyeletuk pada Sovia,
“Bu,
olahraganya jalan-jalan keliling kampung saja ya bu?” pinta Zafran pada
gurunya.
“Jangan
bu, kita main bola kasti saja” protes Alby dengan tanpa diserati opsi olahraga pengganti.
“Coba
tenang sebentar jangan ramai seperti itu ya, materi PJOK hari ini yaitu permainan.
Kira-kira permainan apa yang kalian ingin mainkan?” Sovia menengahi kedua
muridnya dengan sedikit penjelasan.
“Gobak
sodor Bu guru” jawab kompak seluruh murid keras.
Rupanya
Sovia tak ingin menjadi guru layaknya dimasa kolonial yang memaksa murid untuk
mengikuti apa yang dikatakan guru sepenuhnya. Ia memberi kebebasan kepada
muridnya memilih jenis permainan apa yang mereka inginkan sebagai kegiatan
olahraga dengan materi permainan. Nampaknya materi IKM yang pernah ia ikuti
telah membekas meski belum sempurna ia kuasai seutuhya. Ia sadar dalam
kurikulum merdeka telah dijelaskan bahwa guru bukanlah si penguasa kelas, tetapi
murid memiliki kesempatan dan berhak memilih materi yang mereka sukai. Karena memang
begulah esensi dari sebuah kata merdeka.
Waktu
pun terus berputar. Jarum jam terus bergerak menuju kanan hingga tak terasa
hari telah siang. Langit yang semula cerah berganti mendung sebagai tanda
seolah hujan akan turun. “Alhamdulilllah anak-anak sudah pulang” gumam Sovia
dalam hati.
Tiba-tiba
Sovia terdiam membayangkan kedua putrinya. Ya, Sovia dikaruniai dua orang anak
putri yang cantik. Ana Khairunnina gadis kecil dengan usia 9 tahun dan Febriana
Putri usia 2 tahun.
“Apakah Ana sudah pulang ke rumah dengan selamat, dia kehujanan atau tidak ya? Ahh semoga saja dia sudah samapai rumah bersama neneknya” tanyanya seorang diri dalam hatinya.
bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar