Kamis, 02 Februari 2023

Novel februari Ceria hari ke-2 : Sebuah perjalanan Yang Mereka Sebut "Guru Penggerak"

 

Seperti biasa Sovia tiba di sekolah dan menyalami rekan-rekannya. Senyum semangat pun merekah lebar menyapa setiap orang yang ada di depannya. Sovia adalah guru kelas IV, dimana waktu itu kelas I dan kelas IV merupakan kelas yang pertama kali menerapkan kurikulum merdeka. Ya, kurikulum merdeka baru saja diterapkan tahun itu oleh kemendikbudristek sebagai program yang diharapkan mampu membawa perubahan menuju lebih baik dan merdeka bagi pendidikan di Indonesia. Berbekal Bimtek Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) yang ia ikuti beberapa bulan lalu, ia melangkah dengan jiwa penuh semangat menyambut murid-murid di sekolahnya. Ia pun tiba di kelas IV dan mulai pembelajaran.

“Selamat pagi anak-anak?” sapanya lembut penuh hangat pada wajah-wajah polos yang ada di depannya.

“Selamat pagi Bu guru” jawab kompak seluruh isi kelas.

“Apa kabar hari ini? kembali Sovia menyapa seisi kelas.

“Alhamdulilllah luar biasa tetap semangat Allahu akbar” dengan suara lantang penuh semangat pula seluruh siswa kelas IV menjawab sapaan gurunya.

Pagi itu adalah hari kamis mata pelajaran PJOK. Ya, meski Sovia adalah seorang guru kelas dan bukan guru mapel. Tapi saat itu posisi guru mapel PJOK di sekolahnya tengah kosong. Jadi mau tidak mau setiap guru kelas harus mau dan mampu mengajar mapel PJOK.

Setelah kelas selesai melakukan baca do’a bersama, seluruh siswa pun keluar kelas menuju halaman sekolah untuk melaksanakan pembelajaran luar kelas sesuai arahan guru. Ditiupnya peluit sebagai tanda anak-anak harus berbaris di lapangan. Mereka pun mengikuti arahan dan petunjuk sang guru.

“Baiklah anak-anak, seperti biasa kita akan melakukan pemanasan terlebih dahulu agar badan kita siap untuk kita ajak berolahraga nanti”

“Baik Bu guru”

Pemansan pun dimulai. Gerakan pemanasan dipimpin oleh Sovia dan tak lupa ia meminta salah satu muridnya untuk turut ikut berdiri di depan memimpin teman-temannya memberi contoh gerakan. Gerakan dimulai dari atas kepala, bahu, tangan, pinggul dan kaki. Usai melakukan pemanasan Sovia mengajak murid-muridnya untuk lari mengelilingi lapangan badminton dua kali. Setelah selesai melakukan kegiatan tersebut salah satu muridnya menyeletuk pada Sovia,

“Bu, olahraganya jalan-jalan keliling kampung saja ya bu?” pinta Zafran pada gurunya.

“Jangan bu, kita main bola kasti saja” protes Alby dengan tanpa diserati opsi olahraga pengganti.

“Coba tenang sebentar jangan ramai seperti itu ya, materi PJOK hari ini yaitu permainan. Kira-kira permainan apa yang kalian ingin mainkan?” Sovia menengahi kedua muridnya dengan sedikit penjelasan.

“Gobak sodor Bu guru” jawab kompak seluruh murid keras.

Rupanya Sovia tak ingin menjadi guru layaknya dimasa kolonial yang memaksa murid untuk mengikuti apa yang dikatakan guru sepenuhnya. Ia memberi kebebasan kepada muridnya memilih jenis permainan apa yang mereka inginkan sebagai kegiatan olahraga dengan materi permainan. Nampaknya materi IKM yang pernah ia ikuti telah membekas meski belum sempurna ia kuasai seutuhya. Ia sadar dalam kurikulum merdeka telah dijelaskan bahwa guru bukanlah si penguasa kelas, tetapi murid memiliki kesempatan dan berhak memilih materi yang mereka sukai. Karena memang begulah esensi dari sebuah kata merdeka.

Waktu pun terus berputar. Jarum jam terus bergerak menuju kanan hingga tak terasa hari telah siang. Langit yang semula cerah berganti mendung sebagai tanda seolah hujan akan turun. “Alhamdulilllah anak-anak sudah pulang” gumam Sovia dalam hati.

Tiba-tiba Sovia terdiam membayangkan kedua putrinya. Ya, Sovia dikaruniai dua orang anak putri yang cantik. Ana Khairunnina gadis kecil dengan usia 9 tahun dan Febriana Putri usia 2 tahun.

“Apakah Ana sudah pulang ke rumah dengan selamat, dia kehujanan atau tidak ya? Ahh semoga saja dia sudah samapai rumah bersama neneknya” tanyanya seorang diri dalam hatinya.

bersambung...

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Novel Februari Ceria hari Ke-28 "Sebuah perjalanan Yang Mereka Sebut Guru Penggerak"

  PENGUMUMAN SELEKSI TAHAP II Desis angin malam itu terasa dingin seolah menusuk tulang masuk menembus melalui lubang jendela rumah Sovia....