lanjutan ...
Pagi
siang malam Sovia sering menghabiskkan waktu untuk belajar dengan tidak
meninggalkan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu di rumah. Ia tetap
mengurus rumah, suami dan anaknya dengan penuh kasih sayang. Baginya keluarga
adalah hal utama yang harus ia dahulukan. Selain belajar dari kuis yang ia
ikuti dari grup telegram ia juga belajar dari modul yang ia beli secara online
dan buku mata pelajaran kelas tinggi Sekolah Dasar. Berdasarkan pengalaman dari
para peserta seleksi PPPK tahap I, banyak soal pengetahuan yang diambil dari
kelas tinggi Sekolah Dasar. Saat ia hendak belajar membuka modul, tiba-tiba
suaminya mendekatinya sambil berkata,
“Bunda
ko sepertinya bulan ini belum datang bulan ya? Bukankah ini sudah jadwalnya
bunda datang bulan? Jangan-jangan….. suaminya tiba-tiba menghentikan obrolannya
seraya mengambil kalender yang tertempel di dinding kamarnya.
“Apa
yah?” Tanya Sovia heran.
“Bunda
sudah telat sepuluh hari bund. Semoga semoga semogaaaa. Amin”
“Apa
si yah? Hamil”Tanya Sovia.
“Iya
lah bund. Kan katanya pengen punya dedek bayi? Jawab suami Sovia.
“Oh
iya. Hee.” Jawab Sovia singkat.
“Bunda
ko responnya gitu”
“Yah,
cek tespeknya nanti saja ya kalau bunda sudah selesai tes. Hee. Biar mantap dan
fokus dulu” pinta Sovia pada suaminya itu.
“Ok.
Siap menanti kejutan itu bund.”
Hari
yang dinanti pun tiba. Sovia mendapat jadwal tes pada kamis siang pukul 13.00
di SMA 1 Karimata. Pukul 12.00 wib seusai solat dhuhur suami Sovia mengantar
dirinya menuju lokasi tes. Ia seorang diri waktu itu dari kecamatannya. Teman-teman
satu kecamatannya ada yang sudah tes pagi tadi dan juga hari esok. Ruang XI
adalah tempat Sovia berjuang. Langkah demi langkah ia ayunkan menuju ruang XI. Ia
mendapat komputer di pinggir dan menghadap tembok dekat dengan teknisi. Sebelum
menyentuh mouse, tak lupa ia panjatkan do’a pada Yang Kuasa berharap diberikan
kemudahan dan kesuksesan.
Mouse
pun mulai digerakkan dan Sovia memasukkan password yang didapat dari teknisi di
ruang ujian. Soal pertama yang ia dapat adalah tipe Teknis kemudian sosio kultural
dan managerial dan wawancara. Ia baca satu persatu soal yang muncul dengan
penuh ketelitian dengan tetap memperhatikan waktu yang terus berjalan mundur. Hatinya
berbisik, “soalnya mirip saperti yang dapatkan dari kuis-kuis di telegram,
mirip FR yang tes tahap I. Pokokmya bismillah” begitu gumamnya dalam hati
kecilnya.
Ketika
semua soal telah berhasil ia selesaikan dan Sovia akan mengsubmit soal ujian,
hatinya berdetak kencang. Ia tak berani mengsubmit. Ia ingin waktu habis dengan
sendirinya sehingga akan otomatis tersubmit oleh sistem. Sambill menunggu waktu
mundur habis, Sovia terus berdo’a pada Tuhan. Karena memang hanya itu yang bisa
ia lakukan saat ini setelah ikhtiar barus aja ia selesaikan di kursi yang ia
duduki saat ini. Ia tak ingin berfikir banyak. Hanya satu yang difikirannya, positif thinking pada Tuhan dan
memasrahkan semuanya pada Tuhan. Pasrah sepasrah-pasrahnya dan ikhlas seikhlas-ikhlasnya
pada Tuhan. Ketika waktu menunjukkan 00.00.01 Sovia menutup matanya. Ia seperti
tak berani melihat angka yang tertera di layar monitor. Tubuhnya seolah lemah. Ia
sungguh tak berani. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang.
“Udah,
buka matanya. Itu bagus Bu” begitu yang ia dengar dari sosok ibu yang tiba-tiba
berdiri dibelakangnya.
Sovia
pun membuka matanya. Ia harus berani melihat dan menerima berapapun angka yang
ia dapat dari hasil usahanya itu. Ia tak mungkin terus menutup mata. Jika ingin
merubah nasib, maka ia harus berani mengambil langkah. Setiap keputusan
pastilah memiliki resiko. Berada di ruang ujian memanglah menegangkan.
Dan
betapa bahagianya Sovia saat itu didapatinya angka di layarnnya dengan nilai
teknis 325, sosio – managerial 190 dan wawancara 100. Secara nilai ambang batas
Sovia lulus. Ia berharap semoga ia menjadi peserta tunggal di formasi yang ia
pilih saat ini yaitu sekolah induknya sekarang. Sebelum keluar meninggalkan
ruang ujian, Sovia dan bebarapa peserta ujian saling mengucapkan selamat kepada
mereka yang lolos. Sovia tak cukup lama di dalam ruang setelah ia mengetahui
berapa nilai ujiannya siang itu. Ia segera keluar ruang dan mencari suaminya
yang telah setia menunggu di luar ruang. Segera dicarinya sosok bertubuh tinggi
yang ia nikahi sejak enam tahun silam. Didapatinya seseorang dengan baju batik
ungu yang berdiri di dekat motor di lapangan basket. Ya lapangan basket hari
itu telah berubah menjadi lahan parker bagi para peserta tes seleksi PPPK tahap
II. Segera ia mendekati namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Ternyata yang
dilihatnya itu bukanlah suaminya. Rupanya pandangannya mulai sedikit kabur. Hanya
bajunya saja yang mirip dengan baju yang suaminya punya.
“Oh
ya lupa, ayah kan tadi memakai kaos hitam ya. Haduh hampir saja salah orang.” Begitu
bisiknya seorang diri.
Tiba-tiba
ada yang memanggilnya dari arah samping. Rupanya suami Sovia baru saja dari
toilet. Sovia tak banyak berkata pada suaminya. Ia hanya menunjukkan kertas
soal yang sempat ia tuliskan nilai dibaliknya yang ia dapat saat tes di dalam
ruangan tadi.
“Alhamdulillah,
selamat bunda. Semoga bunda berhasil lolos sampai mendapat SK” tutur suami
Sovia sambil memeluk istrinya itu.
Keduanya
pun kemudian pulang dengan naik motor bebek miliknya. Sepanjang perjalanan
Sovia bersyukur dan terus berdo’a karena pengumuman kelulusan belum keluar. Ditengah
perjalanan smartphone miliknya terus bergetar. Banyak pesan masuk yang
menanyakan perihal hasil ujiannya tadi. Sovia belum mau membuka pesan. Ia masih
ingin mentralkan dirinya dulu yang baru saja bergelut dengan suasanya yang
baginya sangat menyita emosi batinnya itu.
Setibanya
di rumah, Sovia segera memeluk anaknya dan terus bersyukur dan masih terus berd’a.
malam itu Sovia pun belum ingin membuka smartphone miliknya. Ia ingin istirahat
lebih awal dari biasanya karena memang bebrapa hari ini ia kurang istirahat.
Keesokan
harinya saat tiba di sekolah, Sovia baru bisa membalas pesan teman-temannya
yang masuk dari kemarin sore. Ia terharu ternyata banyak orang yang perhatian
pada dirinya. Sesaat setelah Sovia
melangkah dan duduk di bangkunya, ia tiba-tiba mendapat banyak pertanyaan dari rekan
– rekannya yang juga ingin mengetahui hasil Sovia tes hari kemarin. Disampaikannya
pula tentang hasil yang ia peroleh. Semua rekannya pun mengucapkan selamat dan
tetap mengingatkan Sovia untuk tidak berhenti berdo’a karena perjuangan Sovia
belum berakhir. Sovia pun mengucapkan terima kasih dan bersyukur memiliki rekan
yang baik dan sayang pada dirinya itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar