2.
Grup
Telegram
Seperti
halnya guru pada umumnya, Sovia pun menyiapkan perangkat pembelajaran yang akan
ia gunakan di esok hari. Tiba-tiba hand phonenya berdering. Pesan telegram masuk
dari sebuah grup komunitas yang ia ikuti. Rupanya anggota grup ramai membahas
sebuah topik yang mereka sebut “guru penggerak”. Sovia pun tak ingin
ketinggalan informasi. Ia pun turut menyimak grup dengan seksama seraya
menikmati secangkir teh hangat yang telah tersaji di mejanya. Ia simak tiap
chat yang masuk satu per satu. Tapi matanya seolah lelah memprotes pada tubuh
yang sedari sibuk bergelut dengan anak-anak. Dipejamkan pula matanya sebentar
dengan kepala bersandar di kursi. Sejenak ia memejamkan mata, Soviapun kembali
menatapnya sekitar ruang kantor.
“Bu
Sovia, mau pulang jam berapa? Sudah siang lo, langit juga seperti mau turun
hujan” Tanya salah seorang temannya pada dirinya.
“Iya
Bu Nadia, sebentar lagi saya berkemas-kemas” jawabnya pada sosok yang duduk di
sebelahnya itu.
Diraihnya
kontak motor miliknya dan ia pun segera meng-starter kendaraannya. Motor hitam
yang setia menemaninya sejak ia kuliah dulu ia rawat dengan penuh kasih sayang.
Bagaimana tidak, motor itu adalah warisan peninggalan ayahnya. Meski kadang ia
mendapat ejekan dari rekannya karena motornya sudah cukup ketinggalan model,
tapi baginya motor tersebut sangatlah istimewa. Sebuah kendaraan yang berhasil
dibeli oleh ayahnya dari hasil panen padi di sawah tak mungkin ia lepaskan
begitu saja. Baginya setiap tetesan keringat ayahnya sangatlah berjasa
untuknya. Untung saja berkat perawatan yang Sovia lakukan kepada motornya itu, lima belas tahun sudah motor itu masih awet dan tetap bagus digunakan meski secara
model ketinggalan jaman.
“Sudah
pulang bund, bagaimana sekolahnya hari ini? Tanya suaminya.
“Alhamdulillah
lancar yah” jawab Sovia singkat
Di
teras rumahnya Sovia beserta suami dan anaknya duduk bersantai menikmati
camilan martabak yang ia beli sepulang mengajar tadi. Disampaikannya pula
tentang apa yang ia baca dari grup telegram tadi siang. Rupa-rupanya ia sudah
sedikit menangkap pesan dari sebuah pendidikan guru penggerak.
“yah,
tadi bunda baca info di grup telegram yang isinya ada sebuah program dari
pemerintah yang namanya Pendidikan Guru Penggerak. Tapi pendidikannya lama, ada
Sembilan bulan. Isinya ya tentang pendidikan keguruan. Kata teman-teman di grup,
sertifikatnya sama seperti PPG ( program profesi guru ). Gratis loh yah. Kira-kira
bagaimana menurut ayah? Serifikat PPG kan bisa menolong kalau tes CPNS atau
PPPK yah” jelas Sovia pada suaminya itu.
“Lah
itu manfaatnya apa bund? Sembilan bulan lama loh bund, PPG Prajabatan saja tiga
bulan. Bunda sanggup? Luring apa daring bund?” Tanya suaminya
“Belum
tahu yah, heheeheeee”
“Bunda
kan masih mau ujian PPPK ( Pegawai Pemerintah Perjanjian Kontrak ) Tahap II.
“Kan
aku Cuma cerita yah”
“Hhhmmm”
Obrolan
pun berhenti. Waktu sudah semakin sore. Sovia dan keluarga pun bergegas masuk
rumah dan melaksanakan aktifitas lain.
Bersambung......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar