Senin, 13 Februari 2023

Novel Februari Ceria Hari Ke-7 "Sebuah perjalanan Yang Mereka Sebut Guru penggerak"

 

Lanjutan ....

Akhirnya kegiatan seleksi pramuka garuda siang itupun selesai. Panitia memberikan informasi bahwa pengumuman hasil seleksi akan disampaikan ketika olah nilai sudah selesai. Karena hari sudah semakin sore dan hujanpun sudah mulai reda. Sovia dan Yosipun bergegas untuk pulang meninggalkan lokasi lomba. Meski tanah masih basah oleh guyuran air hujan tadi, tapi bagi Sovia suasana waktu itu cukup melelahkan dan membuat hawa gerah pada tubuhnya. Ketika pulang, sebelum sampai rumah mereka berdua mampir di sebuah kedai es cendol durian. Ya, baik Sovia mupun Yosi keduanya memiliki hobi suka makan durian. Jadi pilihan  meraka sore itu jatuh pada es cendol durian. Dinikmatinya seteguk demi seteguk es cendol tersebut seraya menunggu jalan raya mengering. Yosi menceritakan bagaimana pengalamannya mengikuti seleksi tadi.

“Bu, tadi waktu tes komputer, mudah sekali loh bu. Waktu di kecamatan tes komputer tugasnya disuruh ngetik surat undangna ulang tahun. Kalau tadi cuma disuruh ngetik Dwi Dharma. Gampang kan Bu? Tutur Yosi pada Sovia.

“Itu namanya rejeki Yosi, kamu mendapat tugas yang mudah. Semoga nanti pengumumannya berhasil lolos yah. Amin”

“Amin Bu Sovia”

Perjalanan mereka sore itupun berlanjut . sovia mengantarkan Yosi pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumahnya. Kedua orang tua Yosi sudah menunggu di depan pintu. Disambutnya putrinya itu yang baru saja pulang dari mengikuti seleksi pramuk garuda. Orang tuanya bangga pada Yosi. Dia bisa terpilih mengikuti seleksi dan berhasil melewati setiap tahapan dengan baik. Merekapun tak lupa mengucapkan teria kasih pada Sovia yang telah dengan sabar mengajari dan mendampingi putrinya itu. Usai berpamitan Sovia pun pulang menuju rumahnya. Seharian dilokasi lomba membuat hatinya rindu ingin bertemu dengan anak-anaknya. 

***

Novel Februari Ceria hari Ke-6 " Sebuah Perjalanan Yang Mereka Sebut guru Penggerak"

                                                         PRAMUKA GARUDA

Hari terus berganti hari. Sovia terus melaksanakan aktifitasnya dan berharap semakin hari ia bisa menjadi wanita yang terus belajar menjadi lebih baik lagi. Baik sebagai seorang istri, ibu juga guru untuk murid-muridnya.

“Bu Sovia lusa siap mendampingi anak yang ikut pramuka garuda ya di SDN 01 Kertajaya. Jangan lupa siapkan administrasi juga semua yang dibutuhkan anak saat kegiatan. Kalau butuh bantuan bisa minta tolong Bu Siska yang sama-sama masih muda, biasanya kalau jiwa muda itu energik” tutur Bapak kepala sekolah kepada Sovia pagi itu.

“Siap Pak” jawab Sovia singkat sambil tersenyum pada sosok yang ia hormati di sekolahnya itu.

Soviapun mulai menyiapkan administrasi untuk peserta seleksi pramuka garuda. Segala keperluan lomba ia siapkan dengan penuh teliti. Ia ingin memberikan yang terbaik bagi muridnya yang akan mewakili sekolahnya untuk mengikuti seleksi pramuka garuda di tingkat Kabupaten itu. Tak lupa ia pun minta do’a dari orang tua dan rekan guru di sekolah untuk kelancaran Yosiana Putri dalam kegitan tersebut. Yosiana Putri adalah siswa kelas V. Ia terpilih mewakili sekolah bersama kelima peserta lain mewakili kecamatan untuk maju di tingkat kabupaten.

Hari yang dinanti pun tiba. Sovia berangkat pagi itu bersama Yosi menuju SDN 01 Kertajaya. Setibanya disana Sovia langsung mengurus pendaftaran Yosi dan mengantarkan Yosi menuju lapangan untuk mengikuti upacara pembukaan. Setelah seluruh peserta seleksi pramuka garuda berkumpul dan mengikuti upacara pembukaan, meraka pun mulai mengikuti seleksi mulai dari Tes Tertulis, uji SKU (Syarat kecakapan Umum), uji SKK (Syarat Kecakapan Khusus), tes komputer, dan hasta karya. Sovia mendampingi Yosi dengan perasaan penuh bahagia. Tiba-tiba hujan turun siang itu. Rupanya rintik air hujan ingin turut membersamai pelaksanaan seleksi pramuka garuda hari itu.

Setelah semua tahapan telah Yosi lewati dan bebarapa peserta lain pun juga tampak telah selesai, Yosi dan Soviapun menikmati makan siang di teras kelas dengan berteman rintikan air hujan. 

“Bu Sovia maaf, bolehkah saya meminjam portofolio milik murid ibu sebentar bu? Sepertinya milik murid saya ada yang kurang, saya mau mencocokkan apakah punya murid saya sudah benar atau belum? Tiba-tiba sua itu datang menghampiri Sovia dan yosi yang tengah asik menikmati menu makan siang.

“Oh, Bu Desi, iya bu silahkan” jawab Sovia seraya menunjukkan fotocopy berkas portofolio milik Yosi yang sudah ia siapkan sejak tempo hari. 

“Oh, Bu, lembar ini to yang milik saya masih salah. Haduh harus ngetik ulang nih. Filenya di sekolah. Bu Sovia bisa nolongin saya lagi nggak Bu? Desak Bu Desi yang panik pada Sovia.

“Apa yang bisa saya tolong bu?” jawab Sovia sambil menghabiskan suapan nasi kotaknya itu di mulutnya.

“Bu Sovia bawa leptop tidak Bu? Saya mau ngetik lembar yang masih salah Bu, Haduh nanti ngeprintnya dimana ya Bu? Ahhhh gak beres ini ahhhh. Jawab Bu Desi yang semakin panik.

“Tenang Bu, Bu Desi duduk saja dulu. Tunggu saya selesai makan ya?” ledek Sovia pada rekannya itu.

“Haduh Bu, aku nggak bisa tenang kalau sudah begini bu. Anak-anak sudah selesai tes. Tadi panitia mengembalikan portofolio anak saya. Katanya ada yang harus diperbaiki.”

“Sudah tenang saja. Saya bawa leptop dan file itu saya punya” Sovia mencoba menenangkan Bu Desi.

“Alhamdulillah. Emang Bu Sovia terlope-lopeeee dah” jawab Bu Desi sambil meluk Sovia yang sedang makan sampai ia tersedak.

“Halah biasa saja ibuk. Uhukkkk” jawab Sovia sambil terbatuk-batuk karena dekapan Bu desi tadi.

Bu Desi pun membuka leptop dan mulai memperbaiki berkas portofolio milik muridnya. Usai memperbaiki segera diraih olehnya flasdisk Toshiba putih miliknya dan lekas dibawa keluar lokasi menuju rental. Dalam hitungan 20 menit Bu Desi kembali ke lokasi sambil basah-basahan air hujan meski sudah memakai jas hujan.

“Alhamdulillah finish. Terima kasih ya Bu Sovia” kemabali Bu Desi memeluk Sovia erat siang itu.

“Iya, tapi kenapa meski meluk-meluk juga si Bu Desi, ini basah Bu cantt” protes Sovia sambil menahan basah air hujan dari jas hujan yang digunakan Bu Desi.

“Hahahahaa, iya maaf ya”

BERSAMBUNG***

Novel Februari Ceria Hari ke-5 "Sebuah Perjalanan Yang mereka Sebut Guru penggerak"

 

KEGUNDAHAN HATI

Meski sudah mencurahkan isi hatinya pada sang suami, hatinya terkadang sesekali masih sedih. Tak jarang pula Sovia meneteskan air mata ketika melihat pengumuman bahwa dirinya belum dinyatakan sebagai peserta seleksi PPPK tahap satu. Setiap ia bersedih ia kembali teringat pada wejangan sang suami yang mengatakan bahwa dirinya haruslah ikhlas pada setiap apa yang Tuhan berikan. Tuhan pasti sedang menyiapkan sesuatu yang indah untuk dirinya. Tak mudah memang untuk dirinya berdamai dengan hatinya. Namun ia merasa bahwa ini mungkin sudah bagian dari takdirnya. Setiap ia bersedih ia berusaha untuk terus beristigfar agar tak memiliki perasaan buruk pada Tuhan yang telah menciptakan dan mengatur setiap jengkal waktu yang ada.

Ia mencoba berdamai pada dirinya, Sovia berfikir mungkin Tuhan telah marah padanya, mungkin saja ibadahnya selama ini kurang pada-Nya, mungkin juga ia kurang sedekah. Diraihnya sebuah tasbih digital, mulutnya mencoba membaca dzikir dan sholawat, “siapa lagi yang bisa mengobati hati ini jika bukan diri sendiri”. Begitu gumamnya dalam hati. Dengan berdzikir ia menjadi lupa akan kesedihannya itu. Sejak sesekali ketika ia tengah berhenti membaca dzikir, ia tengok handphone miliknya. Telegram adalah aplikasi yang saat ini memang sering ia kunjungi setalah whatsap dan instagram. Dari ketiga aplikasi itulah ia selalu berusaha terus mengikuti berita update tentang seleksi PPPK.

“Assalammu’alaikum, selamat siang ibu. Perkenalkan saya Hasna dari Jepara. Sepertinya saya memiliki kisah yang sama seperti ibu. Guru honorer SD negeri, terdaftar di dapodik tapi tidak bisa mengikuti seleksi PPPK tahap 1. Apakah ibu sudah punya solusi dari masalah ibu?” tiba-tiba ada pesan masuk dari sesama pengguna telegram dan tampaknya ia juga anggota grup “Siap PPPK Tahap II”

“Wa’alaikumsalam, iya Bu Hasna. Salam kenal Bu, Saya Sovia dari Pekalongan. Sementara saya belum ada solusi Bu, sudah konsultasi ke Dinas katanya saya harus mengikuti apa yang tertera dari Panselnas bu. Ibu sendiri bagaimana?” jawab Sovia pada sosok yang belum begitu ia kenal.

Obrolanpun berlanjut. Keduanya saling bercerita juga saling menguatkan satu sama lain. Dari obrolan tersebut juga berdasar tanya sana sini, keduanya mengambil kesimpulan, mungkin jawaban mereka tidak bisa ikut seleksi PPPK tahap 1 adalah karena alasan mutasi dan mereka memilih formasi di sekolah induk yang baru. Hal ini dilakukan karena secara administrasi keduanya memang telah melakukan mutasi dan secara dapodik semuanya sudah dipindahkan di sekolah yang baru oleh operator dinas kabupaten setempat. Sementara data yang digunakan oleh SSCASN adalah data per-sebelum keduanya melakukan mutasi. Tak banyak yang tahu memang tentang semua ini. Yang mengalami kisa seperti Sovia dan Hasna pun masih banyak lagi. Mereka bertemu di grup telegram dan saling mencari update info.

Sovia sudah ikhlas, dilaluinya aktifitasnya sebagai guru. Berusaha tersenyum dan menyembunyikan kesedihanya. Tasbih digital tak pernah lepas dari jemarinya. Solat malam pun terus ia lakukan. Berusaha mendekat dan terus bermunajat pada yang kuasa.

Sesaat keika jam istirahat, Sovia membuak sebuah aplikasi di handphonenya. Kali ini facebooklah yang ia buka. Entah bagaimana, tiba-tiba tangannya berhenti mengusap layar sentuh androitnya. Sebuah tulisan singkat membuatnya terdiam sejenak.

“Perbaikilah solatmu, maka Allah akan memperbaiki hidupmu”

Begitulah sebuah salah satu update status dari salah satu temannya di facebook. Sebuah pesan singkat yang sangat  mengena baginya saat ini. ia sejenak merenungkan diri, mencoba mengaitkan kalimat itu pada dirinya sendiri.

“Ya, mungkin memang ibadahku belum benar, Allah ingin aku lebih dekat dengannya. Apa yang terjadi padaku saat ini tak luput dari pengawasannya sebagai pencipta. Aku harus memperbaiki solatku, maka Allah pun akan memperbaiki hidupku. Terima kasih ya Allah, engkau menyadarkan ku hari ini. mungkin saja ini teguran dari Mu untukku. Jika aku bisa ikut seleksi PPPK tahap 1 dan lolos, mungkin aku akan menjadi manusia yang sombong. Karena aku harus bersaing mengalahkan rekan dan memperebutkan satu peluang dengan kakak seniorku Bu Ira yang lebih lama mengabdi dari aku. Dan jika aku bisa ikut seleksi tahap 1 tapi tidak lolos, mungkin saja diriku akan menjadi manusia yang lebih buruk dari hari ini. Hidup memang semua adalah misteri. Mutasi memanglah pilihan yang tepat, dari pada aku dan Bu Ira harus bersaing meperebutkan satu peluang yang sama. Kami tak ingin saling menyaingi, kami berdua ingin sama-sama lolos dan menjadi manusia yang beruntung tahun ini, hanya saja cara Allah lebih unik dan indah untuk dinikmati. Pasti ada hikmah dari setiap ujian” begitu gumamnya dalam hati.

Jam menunjukkan pukul 11.45 wib. Suara adzan dhuhur mulai berkumandang seolah saling berlomba antar masjid ke masjid memanggil para kaum muslim untuk menunaikan ibadah solat dhuhur. Bu Azmi, guru senior di sekolah Sovia mengajak dirinya untuk pergi ke mushola sekolah untuk menunaikan solat. Sovia yang saat itu tidak masuk kelas karena jam mapel agama pun mengiyakan ajakan Bu Azmi.

“Saya lihat sepertinya Bu Sovia ko lesu, apakah Bu Sovia sakit? “ tanyanya seraya menggandeng tangan Sovia kala itu.

“Tidak Bu Azmi, saya baik-baik saja bu. Hanya saja memang seperti lagi lemes Bu, heeee”

“Bu Sovia puasa?” tanyanya kembali untuk yang kedua kalinya.

“Tidak Bu” jawab Sovia singkat sambil tersenyum manis.

“Kita solat yuk, kalau sudah solat hati kita akan tenang. Mau aktifitas apapun juga tenang. Karena kewajiban kita sudah dilaksanakan. Tapi perlu kita ingat, solat jangan dilakukan hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban. Tapi lebih untuk beribadah dan mendekat pada Allah” begitu pesan Bu Azmi pada Sovia, sosok ibu yang usianya terpaut 20 tahun lebih diatasnya.

***

Sabtu, 04 Februari 2023

Novel Februari Ceria hari Ke-4 : Sebuah Perjalanan Yang Mereka Sebut Guru Penggerak (lanjutan bagian 2)

 Hari berhari ia lewati dengan harapan semoga lebih baik dari sebelumnya. Hari ini Sovia diminta oleh kepala sekolah untuk mengikuti rapat Pramuka Garuda di Korwil Kecamatan. Sovia pun menghadirinya dengan rasa senang. Kecintaannya pada pramuka telah lahir sejak ia duduk di bangku Sekolah Dasar. Sovia paling suka dengan kegiatan berkemah, mencari jejak dan lain-lain.

Sepanjang perjalanan rapat hand phonenya terus saja bordering ada pesan masuk di grup telegramnya. Ia pun mengsenyapkan nada agar tidak mengganggu peserta rapat yang lain. Sesekali ditengoknya obrolan dalam grup telegramnya. Lagi-lagi anggota grup membahas guru penggerak.

“Ini kenapa saya ko dipertemukan dengan anggota grup yang membahas guru penggerak ya. Ini grup orang satu Indonesia. Padahal nama grupnya “Siap PPPK Tahap II”, ketemu peserta guru penggerak angkatan 3 juga disini. Itu apa sih, apakah guru Wiyata Bhakti bisa ikut? Bukankah pemerintah selama ini selalu menomor satukan PNS? Ahh sudahlah, sepertinya tidak penting.” Gumamnya seorang diri dalam hati.

Sovia pun kembali fokus pada rapat yang ia ikuti. Ia tak ingin ketinggalan informasi untuk anak didiknya juga untuk sekolahnya. ia dengarkan dengan penuh seksama setiap kata yang diucapkan oleh sang pembicara.

“Assalammu’alaikum Bu Sovia” tiba-tiba muncul suara pelan dari arah belakang. Segera ia menegoknya, ternyata suara itu dating dari perempuan cantik berkaca mata. Namanya Rina. Ia adalah sahabat Sovia sejak kuliah dulu.

“Bu, ku dengar kau tidak ikut tes seleksi PPPK tahap I ya, kenapa bisa tidak bisa ikut?”

“Ah, sudahlah. Aku tidak mau mengingat apa yang sudah terjadi. Nanti aku sedih lagi, kau mau melihat aku kembali meratapi nasibku?” jawa Sovia sambil meledek sahabatnya itu.

“Iya iya, maaf. Semangat ya, semoga tahap II lolos. Amin”

“Terima kasih ya.” Jawab Sovia sembari tersenyum pada orang yang berdiri di sebelahnya itu.

Siang itu Sovia sangat lelah, ia meminta ijin kepada kepala sekolah untuk bisa pulang lebih awal dari biasanya.  Sesampainya di rumah Sovia pun membaringkan dirinya pada kasur. Diraihnya pula bantal merah miliknya. Hatinya kembali sedih teringat pertanyaan sahabatnya siang tadi. Rupa-rupanya ia belum bisa move on  dari seleksi PPPK tahap I. ia pun sadar bahwa ia haruslah belajar lebih giat lagi mengingat seleksi PPPK tahap II dia akan bersaing dengan mereka-reka yang telah mengantongi sertifikat pendidik. Segera diraihnya pula buku lathan soal seleksi PPPK. Siang itu ia belajar sembari rebahan. Sepuluh menit berlalu nampaknya rautan lelah diwajahnya tak bisa ia tutupi. Matanya pun terpejam. Buku latihan soal pun tergeletak diatas kasur. Tanpa ia sadari bahwa jam sudah sore pukul 15.00 wib. Suaminya yang baru saja pulang kerja merapihkan buku latihan di dekatnya tertidur.

Senja diufuk barat semakin tenggelam meninggalkan siang perlahan dan memerah. Bulan sabit pun mulai muncul menyambut malam. Tak lupa Sovia menyiapkan makan malam bersama keluarga tercintanya. Usai menikmati sajian makan malam, Sovia tiba-tiba mendekati suaminya dan berkata,

“Yah, jika saja bunda punya sertifikat pendidik. Pasti bunda bisa tenang karena nilai tes auto 100% untuk teknis ya yah?  

“Bunda syukuri saja, artinya bunda harus berusaha sungguh-sungguh tidak hanya mengandalkan serdik seperti mereka yang sudah punya. Kalau sudah rejeki percayakan saja pada yang Kuasa”

“Iya yah”

bersambung .....

Novel Februari Ceria Hari Ke-3 : Sebuah Perjalanan Yang Mereka Sebut guru Penggerak (Bagian 2)

 

2.      Grup Telegram

Seperti halnya guru pada umumnya, Sovia pun menyiapkan perangkat pembelajaran yang akan ia gunakan di esok hari. Tiba-tiba hand phonenya berdering. Pesan telegram masuk dari sebuah grup komunitas yang ia ikuti. Rupanya anggota grup ramai membahas sebuah topik yang mereka sebut “guru penggerak”. Sovia pun tak ingin ketinggalan informasi. Ia pun turut menyimak grup dengan seksama seraya menikmati secangkir teh hangat yang telah tersaji di mejanya. Ia simak tiap chat yang masuk satu per satu. Tapi matanya seolah lelah memprotes pada tubuh yang sedari sibuk bergelut dengan anak-anak. Dipejamkan pula matanya sebentar dengan kepala bersandar di kursi. Sejenak ia memejamkan mata, Soviapun kembali menatapnya sekitar ruang kantor.

“Bu Sovia, mau pulang jam berapa? Sudah siang lo, langit juga seperti mau turun hujan” Tanya salah seorang temannya pada dirinya.

“Iya Bu Nadia, sebentar lagi saya berkemas-kemas” jawabnya pada sosok yang duduk di sebelahnya itu.

Diraihnya kontak motor miliknya dan ia pun segera meng-starter kendaraannya. Motor hitam yang setia menemaninya sejak ia kuliah dulu ia rawat dengan penuh kasih sayang. Bagaimana tidak, motor itu adalah warisan peninggalan ayahnya. Meski kadang ia mendapat ejekan dari rekannya karena motornya sudah cukup ketinggalan model, tapi baginya motor tersebut sangatlah istimewa. Sebuah kendaraan yang berhasil dibeli oleh ayahnya dari hasil panen padi di sawah tak mungkin ia lepaskan begitu saja. Baginya setiap tetesan keringat ayahnya sangatlah berjasa untuknya. Untung saja berkat perawatan yang Sovia lakukan kepada motornya itu, lima belas tahun sudah motor itu masih awet dan tetap bagus digunakan meski secara model ketinggalan jaman.

“Sudah pulang bund, bagaimana sekolahnya hari ini? Tanya suaminya.

“Alhamdulillah lancar yah” jawab Sovia singkat

Di teras rumahnya Sovia beserta suami dan anaknya duduk bersantai menikmati camilan martabak yang ia beli sepulang mengajar tadi. Disampaikannya pula tentang apa yang ia baca dari grup telegram tadi siang. Rupa-rupanya ia sudah sedikit menangkap pesan dari sebuah pendidikan guru penggerak.

“yah, tadi bunda baca info di grup telegram yang isinya ada sebuah program dari pemerintah yang namanya Pendidikan Guru Penggerak. Tapi pendidikannya lama, ada Sembilan bulan. Isinya ya tentang pendidikan keguruan. Kata teman-teman di grup, sertifikatnya sama seperti PPG ( program profesi guru ). Gratis loh yah. Kira-kira bagaimana menurut ayah? Serifikat PPG kan bisa menolong kalau tes CPNS atau PPPK yah” jelas Sovia pada suaminya itu.

“Lah itu manfaatnya apa bund? Sembilan bulan lama loh bund, PPG Prajabatan saja tiga bulan. Bunda sanggup? Luring apa daring bund?” Tanya suaminya

“Belum tahu yah, heheeheeee”

“Bunda kan masih mau ujian PPPK ( Pegawai Pemerintah Perjanjian Kontrak ) Tahap II.

“Kan aku Cuma cerita yah”

“Hhhmmm”

Obrolan pun berhenti. Waktu sudah semakin sore. Sovia dan keluarga pun bergegas masuk rumah dan melaksanakan aktifitas lain.

Bersambung......

Kamis, 02 Februari 2023

Novel februari Ceria hari ke-2 : Sebuah perjalanan Yang Mereka Sebut "Guru Penggerak"

 

Seperti biasa Sovia tiba di sekolah dan menyalami rekan-rekannya. Senyum semangat pun merekah lebar menyapa setiap orang yang ada di depannya. Sovia adalah guru kelas IV, dimana waktu itu kelas I dan kelas IV merupakan kelas yang pertama kali menerapkan kurikulum merdeka. Ya, kurikulum merdeka baru saja diterapkan tahun itu oleh kemendikbudristek sebagai program yang diharapkan mampu membawa perubahan menuju lebih baik dan merdeka bagi pendidikan di Indonesia. Berbekal Bimtek Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) yang ia ikuti beberapa bulan lalu, ia melangkah dengan jiwa penuh semangat menyambut murid-murid di sekolahnya. Ia pun tiba di kelas IV dan mulai pembelajaran.

“Selamat pagi anak-anak?” sapanya lembut penuh hangat pada wajah-wajah polos yang ada di depannya.

“Selamat pagi Bu guru” jawab kompak seluruh isi kelas.

“Apa kabar hari ini? kembali Sovia menyapa seisi kelas.

“Alhamdulilllah luar biasa tetap semangat Allahu akbar” dengan suara lantang penuh semangat pula seluruh siswa kelas IV menjawab sapaan gurunya.

Pagi itu adalah hari kamis mata pelajaran PJOK. Ya, meski Sovia adalah seorang guru kelas dan bukan guru mapel. Tapi saat itu posisi guru mapel PJOK di sekolahnya tengah kosong. Jadi mau tidak mau setiap guru kelas harus mau dan mampu mengajar mapel PJOK.

Setelah kelas selesai melakukan baca do’a bersama, seluruh siswa pun keluar kelas menuju halaman sekolah untuk melaksanakan pembelajaran luar kelas sesuai arahan guru. Ditiupnya peluit sebagai tanda anak-anak harus berbaris di lapangan. Mereka pun mengikuti arahan dan petunjuk sang guru.

“Baiklah anak-anak, seperti biasa kita akan melakukan pemanasan terlebih dahulu agar badan kita siap untuk kita ajak berolahraga nanti”

“Baik Bu guru”

Pemansan pun dimulai. Gerakan pemanasan dipimpin oleh Sovia dan tak lupa ia meminta salah satu muridnya untuk turut ikut berdiri di depan memimpin teman-temannya memberi contoh gerakan. Gerakan dimulai dari atas kepala, bahu, tangan, pinggul dan kaki. Usai melakukan pemanasan Sovia mengajak murid-muridnya untuk lari mengelilingi lapangan badminton dua kali. Setelah selesai melakukan kegiatan tersebut salah satu muridnya menyeletuk pada Sovia,

“Bu, olahraganya jalan-jalan keliling kampung saja ya bu?” pinta Zafran pada gurunya.

“Jangan bu, kita main bola kasti saja” protes Alby dengan tanpa diserati opsi olahraga pengganti.

“Coba tenang sebentar jangan ramai seperti itu ya, materi PJOK hari ini yaitu permainan. Kira-kira permainan apa yang kalian ingin mainkan?” Sovia menengahi kedua muridnya dengan sedikit penjelasan.

“Gobak sodor Bu guru” jawab kompak seluruh murid keras.

Rupanya Sovia tak ingin menjadi guru layaknya dimasa kolonial yang memaksa murid untuk mengikuti apa yang dikatakan guru sepenuhnya. Ia memberi kebebasan kepada muridnya memilih jenis permainan apa yang mereka inginkan sebagai kegiatan olahraga dengan materi permainan. Nampaknya materi IKM yang pernah ia ikuti telah membekas meski belum sempurna ia kuasai seutuhya. Ia sadar dalam kurikulum merdeka telah dijelaskan bahwa guru bukanlah si penguasa kelas, tetapi murid memiliki kesempatan dan berhak memilih materi yang mereka sukai. Karena memang begulah esensi dari sebuah kata merdeka.

Waktu pun terus berputar. Jarum jam terus bergerak menuju kanan hingga tak terasa hari telah siang. Langit yang semula cerah berganti mendung sebagai tanda seolah hujan akan turun. “Alhamdulilllah anak-anak sudah pulang” gumam Sovia dalam hati.

Tiba-tiba Sovia terdiam membayangkan kedua putrinya. Ya, Sovia dikaruniai dua orang anak putri yang cantik. Ana Khairunnina gadis kecil dengan usia 9 tahun dan Febriana Putri usia 2 tahun.

“Apakah Ana sudah pulang ke rumah dengan selamat, dia kehujanan atau tidak ya? Ahh semoga saja dia sudah samapai rumah bersama neneknya” tanyanya seorang diri dalam hatinya.

bersambung...

 

 

 

 

Rabu, 01 Februari 2023

Novel Februari Ceria Hari Ke- 1 "Sebuah Perjalanan Yang Mereka Sebut Guru Penggerak"

SEMANGAT DI PAGI HARI


Seperti biasa, pagi itu Sovia bangun pagi dan menyiapkan segala kebutuhan keluarga sebelum ia berangkat mengajar. Ya, rutinitas yang mulai digelutinya sejak 10 tahun silam ini ia jalani dengan tulus ikhlas dan penuh bahagia. Menjadi seorang istri sekaligus sebagai wanita karir adalah impiannya. Menyukai dunia anak adalah salah satu hal yang menjadi alasan awal ketika ia duduk di bangku SMA setelah demi mengamalkan ilmu sehingga ia memilih jurusan keguruan di kuliahnya. Tentu saja hal ini memiliki alasan mendasar kenapa ia menyukai anak-anak, maklum saja Sovia terlahir sebagai anak bungsu dan ia terlahir dari keluarga yang ibunya adalah guru ngaji. Setiap malam rumahnya penuh dengan anak-anak kampung yang datang ke rumahnya untuk belajar mengaji dengan ibunya. Ketika ibunya berhalangan untuk mengajar, Sovia sering dimintai tolong untuk membantu ibunya mengajari anak-anak yang masih mengaji mengenali huruf hijaiyyah. Sedangkan anak lain yang sudah cukup lancar mengaji mereka saling simak-menyimak bacaan.

“Bund, sarapan apa sudah siap? “ Tanya Rudi selaku suami dari Sovia.

“Sudah sayang, sebentar ya” jawab Sovia singkat pada sosok lelaki tinggi yang ia nikahi sejak 6 tahun silam.

“Sayang, maaf ya pagi ini cuma bisa masakin nasi goreng sama tempe mendoan”

“Tidak apa-apa. Asal yang masak istri tercinta pasti aku makan” jawab sang suami sambil tersenyum.

Waktu terus berjalan, Sovia pun tiba di Sekolah dan mulai memasuki kelasnya. Materi pagi itu adalah matematika. Seperti biasa Sovia memulai pelajaran dengan memberikan afirmasi positif pada murid-muridnya. Ia berharap agar kelasnya berjalan dengan menyenangkan agar tujuan pembelajaran bisa tercapai sesuai rencana. Beragam alat peraga pun sudah ia siapkan dengan baik. Sovia dikenal sebagai guru perempuan yang aktif dan gemar berorganisasi. Bagaimana tidak aktif, di keluarganya ia dikenal sebagai anak bungsu yang sudah terbiasa mandiri dengan segala aktifitas. Sejak gadis ia rela melancong mengajar dari satu sekolah ke sekolah yang lain demi biaya kuliah yang ia tanggung sendiri. Rupiah demi rupiah ia kumpulkan untuk membayar SPP. Maklum, sebagai anak bungsu dengan empat bersaudara, ayahnya telah lanjut usia. Sehingga ia harus kuliah sambil bekerja dan tak sering pula ia berusaha untuk mencari  beasiswa.

   

Novel Februari Ceria hari Ke-28 "Sebuah perjalanan Yang Mereka Sebut Guru Penggerak"

  PENGUMUMAN SELEKSI TAHAP II Desis angin malam itu terasa dingin seolah menusuk tulang masuk menembus melalui lubang jendela rumah Sovia....