Senin, 27 Februari 2023

Novel Februari Ceria hari Ke-21 : Sebuah perjalanan Yang Mereka Sebut Guru Penggerak

                                                                  SIMULASI MENGAJAR

Hari berganti hari. Waktu terus berjalan menyesuaikan peredarannya rotasi bumi. Sovia dan teman-temannya yang lolos CGP tahap I diminta untuk melakukan praktik mengajar. Saat keluar jadwal untuk melakukan simulasi menagajar, tak ubahnya para CGP, Sovia pun menyiapkan segala yang dibutuhkan pada saat simulasi nanti. Setiap CGP diminta untuk melakukan simulasi mengajar selama 10 menit dengan RPP (Rancangan Program Pembelajaran) yang berbentuk satu lembar kertas HVS atau F4. Sovia pun melakukan apa yang diminta oleh SIMPKB. Membuat RPP satu lembar dan menguploadnya SIMPKB dan juga di laman Guru Berbagi.

Hari esok adalah jadwal Sovia melaksanakan simulasi mengajar. Menjelang sore sekitar pukul 15.00 WIB Sovia menerima sebuah pesan singkat melalui whatshap dari sebuah nomer baru.  Rupanya nomer itu adalah milik seorang pemantau CGP dengan nama Bu Sinta. Isi pesannya mengingatkan Sovia bahwa hari esok adalah jadwal Sovia untuk melakukan simulasi dan ia diminta untuk menyiapkan materi sesuai RPP yang telah diupload di SIMPKB dan segala yang diperlukan pada saat simulasi. Sovia pun memblasa pesan itu dengan ucapan terima kasih karena telah mengingatkan dirinya.

Simulasi mengajar yang akan dilaksanakan Sovia adalah secara daring. Ia harus berdiri seolah-olah sedang mengajar di kelas dan akan dilihat serta diawasi oleh pemantau dan penilai. Untuk itu Sovia pun telah menyiapkan leptop yang ia pinjam milik suaminya, karena leptop miliknya suara speakernya sudah tak sebagus dulu, roll kabel, jaringan internet. Namun dirinya masih kebingungan alat peraga apa yang akan ia gunakan saat simulasi nanti. Dirinya ingin menggunakan LCD Proyektor tapi takut waktu yang dibutuhkan akan lebih dari sepuluh menit.

Saat dirumah tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah kalender duduk yang terpajang rapih di meja kerja suaminya. Idenya pun mulai muncul. Ia hendak menempelkan beberapa gambar tentang keanekaragaman yang ada di Indonesia pada kalender tersebut. Menurutnya, waktu simulasi yang hanya sepuluh menit ini seorang CGP harus bisa memanfaatkan waktu dengan baik dan menggunakan alat peraga yang simpel dan juga menarik.

Waktu sore pun telah beranjak pergi dan malam telah datang. Malam itu Sovia tak ingin tidur larut malam. Ia harus menyiapkan dirinya yang esok akan melaksanakan simulasi. Jadwal Sovia adalah pukul 11.00 WIB – selesai.

Pagi ini sinar mentari terasa cukup hangat. Sovia mulai mengajar dikelasnya seperti hari-hari biasanya.

“Bu Sovia simulasinya pukul berapa Bu? Tanya Bu Ati pada Sovia pagi itu.

“Pukul 11.00 wib Bu Ati” jawab Sovia sambil melempar senyum pada Bu Ati.

“Nanti saya bantu apa yang dibutuhkan Bu, sekalian saya mau lihat buat pandangan saya ketika simulasi nanti. Hhe” ujar Bu Ati.

“Iya Bu Ati, terima kasih”

Waktu pun terus berjalan dan semakin dekat pada pukul 11.00 WIB. Sovia mulai bergegas menata leptop dan segalanya diruang kelas. Ia memilih ruang kelas yang tidak jauh dari akses internet. Do’anya siang itu adalah semoga langit cerah dan tidak listrik tidak padam.

Bersambung...

Novel Februari Ceria hari Ke-20 : Sebuah perjalanan Yang Mereka Sebut Guru Penggerak

 

PENGUMUMAN TAHAP I

Sovia pun kemudian mengajak Fahrul masuk menuju kelas karena bel masuk sudah berbunyi.

Sesaat ketika Sovia berada dalam kelas. Tiba-tiba smartphonenya bergetar. Banyak pesan masuk, dilihatnya sebentar oleh Sovia ternyata obrolan dari sebuah grup di telegram tengah ramai. Rupanya ada informasi pengumuman tahap I Calon Guru Penggerak Angkatan 5. Ia sedikit bingung melihatnya karena file itu berisi data pengumuman seprovinsi Jawa Tengah. Saat dibukanya file tersebut oleh Sovia, dia terkaget ternyata ada namanya dalam pengumuman itu. Rupa-rupanya Sovia telah lolos di tahap I. Ia tak mengerti respon apa yang hendak ia keluarkan. Ia hanya terdiam dan berucap dalam hatinya, “jika ini baik maka mudahkan dan lanjutkan, jika ini kurang baik maka semua terserah pada-Mu Rabb”

“Alhamdulillah ada Bu Ati yang juga lolos” kembali Sovia bergumam dalam hatinya.

Bu Ati adalah rekan sesame guru yang juga berasal dari sekolah yang sama dengan Sovia.

Siang itu seisi ruang guru beramai-ramai mengucapkan selamat kepada Sovia dan Bu Ati. Keduanya pun mengucapkan terima kasih dan meminta dido’akan yang terbaik.

“Selamat ya Bu Sovia dan Bu Ati, semoga ini menjadi prestasi bagi ibu dan lancar kedepannya. amin” tutur kepala sekolah kepada mereka berdua.

Awalnya Sovia sedikit minder karena status ia saat itu adalah guru wiyata bhakti. Namun setelah ia tahu ternyata ada juga guru wiyata bhakti dari satu kecamatannya yang juga lolos, Sovia sedikit merasa lega. Ternyata ia tidak sendirian.

Novel Februari Ceria hari Ke-19 : Sebuah perjalanan Yang Mereka Sebut Guru Penggerak

 Lanjutkan...


Sinar mentari pagi itu tampak hangat di tubuh. Sovia berjalan pelan menikmati sinar matahari yang mengenai tubuhnya di halaman sekolah. Dilihatnya bendera merah putih berkibar menjulang tinggi pada tiang yang entah sudah berapa lama ia berdiri tanpa pernah mengeluh lelah. “Langit pagi ini tampak indah, awan putih rapih berjajar seolah tak ingin mengecewakan  semua yang memandangnya. Begitu terasa nikmat pagi ini. Hhmm” gumam Sovia seorang diri.

Tiba-tiba dari arah berlawanan seorang murid berlari dan menabrak Sovia yang sedang berjalan hendak menuju kelas. Didapatinya ternyata Fahrul sedang berkejaran dengan Rubi.

“Eh maaf Bu Sovia. Saya dikejar Rubi Bu” tutur Fahrul sembari memgang tangan Sovia meminta maaf.

“kalau lari hati-hati Rul, lihat kanan kiri. Untung kamu tidak jatuh” sahut Sovia.

“Iya Bu, eh Bu Sovia. Ibuku kemarin whatsap Bu Sovia si Bu. Ko Bu Sovia tidak balas” tanpa rasa malu Fahrul menanyakan perihal pesan dari ibunya yang kemarin belum dijawab oleh Sovia.

Sovia yang saat itu tengah berdiri di depan Fahrul mengucapkan minta maaf karena tidak langsung merespon pesan dari ibunya. Sambil memegang bahu Fahrul, Sovia berkata,

“Fahrul kemarin sudah salaman dengan hamdan belum?”

“Sudah Bu”

“Kemarin sudah saling memberi alasan kan, dan kalian juga sudah saling memaafkan. Ko Fahrul masih bersikeras lagi dengan alasan Fahrul. Sekarang kita belajar menjadi anak yang baik dan memaafkan kesalahan orang ya. Kalau sudah saling memafkan, tidak perlu diungkit-ungkit lagi. Bisa jadi nanti akan ada yang tersinggung. Mau jadi anak yang baik? “ Tanya Sovia pada fahrul.

“Iya Bu.” Jawab Fahrul seraya menganggukan kepala.

***

Rabu, 22 Februari 2023

Novel Februari Ceria hari Ke-18 : Sebuah perjalanan Yang Mereka Sebut Guru Penggerak

 

PESAN DARI WALI MURID

“Bu Sovia, ada anak yang berkelahi di kelas Bu. Hamdan bu, Hamdan berkelahi dengan Fahrul Bu. Cepet Bu ke kelas Bu. Cepet Bu” tutur Firman sambil tersenggal-senggal nafasnya pada Sovia.

“Ada apa dan kenapa. Pelan-pelan kalau ngomong Firman” tegas Sovia pada muridnya itu.

“Begini Bu, Hamdan di kelas berkelahi dengan fahrul B” jawab Firman

“Loh, bukannya ini jam istirahat. Kenapa di dalam kelas?” Tanya Sovia heran/

“Tidak tahu Bu, Pokoknya Bu Sovia ayok cepet ke kelas Bu.” Ucap Firman seraya menarik tangan Sovia.

Sovia yang tak ingin terjadi keributan di kelasnya itu pun segera menuju kelas IV. 

“Ada apa ini, Hamdan, fahrul hentikan!!! Ada apa ini sebenarnya” suara Sovia sedikit meninggi membuat seisi kelas yang semula gaduh spontan menjadi hening.

“Hamdan yang mulai dulu Bu, dia menumpahkan makananku sampai jatuh” Ucap fahrul.

“Gak bu. Fahrul saja yang menyenggol aku bu. Ya jatuh makanan dia. Jatuh sendiri tapi ko marah-marah. Malah dia mau mukul aku bu” ujar fahrul membela diri.

“Ini kenapa kalian ribut di dalam kelas. Bukankah Bu Sovia sudah menyampaikan. Istirahat itu di luar, tidak di dalam kelas. Malah ada yang rebut-ribut begini” tegas Sovia pada murid-muridnya itu.

“Iya, hhoooooo” sorak murid-murid yang lainnya.

“Sudah-sudah, coba sekarang saling maaf-maafan. Tidak usah saling menyalahkan. Coba Hamdan dan fahrul salaman nak.” Pinta Sovia pada kedua muridnya itu.

“ya nggak mau bu. Hamdan yang salah ko. Aku disuruh minta maaf” protes fahrul pada Sovia.

Segera diraihnya tangan Fahrul untuk diajak mau bersalaman dengan Hamdan oleh Sovia. Namun, tangan Sovia justru malah dikibas oleh Fahrul.

“Fahrul! Bu guru bilang saling maaf-maafan. Dimata Bu guru kaian sama salahnya. Jam istirahat tapi main bahkan makan di dalam kelas” kembali suara Sovia sedikit meninggi supaya kedua muridnya itu menyadari kesalahannya.

Akhirnya kedua murid tadi pun bersalaman. Dan murid yang berkerumun pun mulain membubarkan diri. Sovia menghela nafas panjang. “Alhamdulillah” begitu gumamnya dalam hati.

Sovia menuju kantor dan duduk di bangkunya. Diraihnya segelas air putih olehnya dan diminumnya.

“Siapa yang ramai Bu Sovia?” Tanya Bu Retno pada Sovia

“Hamdan dan Fahrul Bu”

“Sekarang sudah berdamai belum anaknya Bu Sov?

“Sudah Bu”

Usai kejadian tadi di kelas, Hamdan dan Fahrul terlihat saing menjauh dan tidak mau saling tegur sapa. Sovia memnyampaikan pelajaran seperti biasanya. Tidak lupa ia pun juga menyampaikan nilai budi pekerti agar tidak kembali lagi terjadi keributan di kelasnya.

Siang itu semua aktivitas kembali berjalan seperti biasanya. Usai pembelajaran selesai, semua guru dan siswa pulang ke rumah masing-masing. Ditengah perjalanan pulang. Tiba-tiba smartphone Sovia bergetar. Sepertinya ada pesan masuk. Namun karena Sovia tengah berada dalam perjalanan, ia mengabaikan pesan yang masuk. Sesampainya di rumah, dilihatnya pesan yang tadi masuk, rupanya ada pesan dari ibunya Fahrul.

“Assalammu’alaikum, mohon maaf mengganggu Bu Sovia. Mohon maaf juga atas kelancangan saya. Fahrul memaksa saya untuk mengirim pesan ke Bu Sovia. Saya disuruh menyampaikan katanya tadi Fahrul tidak salah sama Hamdan tapi Bu Sovia memarahi Fahrul. Maaf bu sebelumnya, saya sudah menyampaikan mungkin Bu Sovia mengingatkan Fahrul tapi dia tetap minta saya untuk kirim pesan ke Bu Sovia. Terima kasih” pesan itu tertulis dari ibunya Fahrul. Menanggapi pesan tersebut, Sovia tersenyum seorang diri.

“Maksudnya apa ini, mau negur saya atau mau protes atau mau meluruskan kejadian tadi yang dialami anaknya. Hhhm ada-ada saja” gumam Sovia dalam hatinya.

Sovia yang baru saja sampai rumah hanya membalas siangkat “Terima kasih sudah menyampaikan pesan Bu, saya jawab nanti ya” Sovia pun lekas masuk ke rumah.

Malam itu Sovia hendak menyelesaikan pendaftaran CGP miliknya. Diceknya setiap point yang ada. Dilengkapinya essay yang masih terdapat kekurangan, ia mantapkan hati untuk mengirim berkas malam itu. Setelah dirasa semua telah selesai ia pun memilih tombol kirim di akun SIMPKBnya itu.

“Wallahu’alam, bismillah mengirim berkas. Jika tahun ini belum bisa ikut PPG, yasudah PGP (Pendidikan Guru Penggerak) dulu juga boleh. Batin Sovia malam itu.

“Sudah selesai bund?” Tanya suami Sovia.

“Sudah yah”

“Yang terpenting untuk ibu, jadilah guru yang baik,loyal, terus semangat mengembangkan diri, dan jadilah guru yang selalu dirindu murid-murid”

“Iya ayah. Terima kasih semangatnya” jawab Sovia manja didekat suaminya itu.

Tiba-tiba Sovia terdiam memikirkan kejadian tadi siang di kelasnya. Ia merasa heran kenapa Fahrul masih saja mengungkit kejadian tadi siang dan bersikeras untuk mengatakan dia tidak bersalah sampai-sampai harus mengirim pesan lewat chat whatsap. Padahal tadi siang sudah saling memaafkan. “Dunia anak-anak kadang memang seperti itu, semoga aku bisa sabar menghadapi murid-murid dengan keaneka ragaman sifatnya” fikir Sovia seorang diri.

Tiba-tiba suaminya menepuk punggung Sovia yang dari tadi tampak seolah sedang melamun.

“Bunda ngalamunin apa? Ayah disamping bunda gak pergi kemana-mana bund. Hhee” ledek suami Sovia.

Diceritakannya pula oleh Sovia tentang kejadian tadi siang di kelasnya, juga mengenai pesan whatsap dari ibunya Fahrul. Suaminya hanya tersenyum mendengar cerita istrinya itu. Dan memberikan pemnguatan kepada Sovia bahwa itu bagian dari tanggung jawab Sovia sebagai seorang guru untuk memberikan pendidikan moral bagi murid-muridnya agar mereka kelak menjadi pribadi yang baik dan mulia. 

Soviapun mengambil kesimpulan untuk tidak membalas chat dari ibunya Fahrul dulu. Ia ingin bertemu dengan Fahrul secara langsung untuk bertanya juga menasihatinya. Ia tak ingin murid-muridnya memiliki jiwa yang tak bisa memafkan orang lain. Ia mengharapkan anak didiknya menjadi pribadi yang berhati mulia dan pemaaf.

***

Selasa, 21 Februari 2023

Novel Februari Ceria hari Ke-17 : Sebuah perjalanan Yang Mereka Sebut Guru Penggerak

Lanjutan ....

Pada pertanyaan kedua ia diminta untuk menuliskan pengalaman tantangan yang pernah ia temui ketika menjalin komunikasi atau bekerja sama dengan orang lain, bagaimana kejadiannya dan bagaimana pula solusi yang telah diambil Disini Sovia seolah merasa galau. ia bingung mau menuliskan kalimat apa. Sebisanya pun ia mulai menuliskan apa yang ada dibenaknya kala itu. Baginya ketika kata yang ia tulis telah mencukupi jumlah karakter yang diminta oleh sistem, hatinya merasa senang dan bahagia. “kenapa bahagiaku receh sekali ya, cukup melihat  jumlah karakter saja sudah happy” gumam Sovia dalam hati sambil tersenyum seorang diri di depan monitor yang sedari tadi membersamai waktu sorenya.

Ketika tiba pada soal ketiga, ia diminta untuk menuliskan pengalaman dalam menghadapi situasi yang paling menantang, kompleks atau sulit saat menjalankan tugas. Baginya, dalam sebuah pekerjaan pastilah seseorang pernah mengalami situasi yang menantang dan sulit. Disini Sovia pun kembali dihadapkan pada situasi yang sulit. Ia bingung hendak menuliskan apa. Tiba-tiba sejenak ia berfikir “pengalaman yang menantang? Bukankah saat ini juga diriku tengah dihadapkan dengan sebuah situasi yang menantang. Menjawab pertanyaan essay yang dikira mudah tapi ternyata tidak bisa dihabiskan dalam sekali waktu? Aagghhh, memang ini menantang. Siapa suruh coba daftar CGP” hatinya kesal karena ia belum menemukan kata apa yang hendak ia tulis. Diraihnya secangkir kopi yang telah ia sediakan dan mulai mendingin itu. Saking fokusnya sampai-sampai ia pun lupa pada secangkir kopi yang telah ia sediakan sebelumnya. Meski Sovia adalah seorang perempuan, terkadang menikmati kopi hitam. Baginya kopi hitam adalah sebuah minuman yang juga bisa dinikmati oleh kaum hawa. Bagi Sovia, setiap ia selesai minum kopi hitam fikirannya akan mudah untuk diajak berfikir.

Tanpa ia sadari ternyata mega merah mulai tampak di ufuk barat sebagai tanda bahwa malam kan segera tiba. “Tuh kan. Belum selesai tiba-tiba sudah mau maghrib. Bakal sampai kapan ini essaynya selesai” kembali ia menyampaikan sedikit kekesalan pada dirinya. Ia pun menutup leptop dan beranjak menghampiri anak dan suaminya itu.

“Sudah selesai bund?” Tanya suami Sovia pada dirinya itu.

“Belum yah, soalnya singkat tapi jawabnnya panjang loh yah” tegas Sovia pada suaminya.

“Sepanjang apa si bun? Paling juga satu layar leptop” ledek suami Sovia.

“Ayah,,,, layarnya satu. Tapi yang dihitung karakter huruf ayah…” rengek Sovia membela diri.

“Iya, iya maaf. Kalau belum selesai bisa dilanjut nanti malam bund. Sudah mau maghrib, solat jama’ah dulu yuk” ajak suami Sovia.

Sovia hanya mengangguk menandakan ia setuju pada ajakan suaminya untuk solat berjama’ah malam itu.

Usai solat maghrib berjam’ah dan makan malam, Sovia ingin kembali melanjutkan mengerjakan essay CGP. Meski ia kesal pada sore tadi, tetap saja batinnya merasa tertantang untuk bisa menyelesaikan essay. Kembali dibukanya leptop yang sedari sore belum juga beranjak dari meja ruang depan rumah Sovia. Sesaat setelah Sovia menekan tombol power, tiba-tiba anaknya datang menghampiri,

“Bunda ko belajarnya tidak selesai-selesai sih” protes anak Sovia pada dirinya yang kembali hendak menyalakan leptop.

“Bunda masih ada pekerjaan, boleh tidak kalau bunda menyelesaikannya dulu sayang? Adek boleh main disamping bunda ko.” Pinta Sovia pada anaknya itu.

“Boleh” jawab anak Sovia singkat sembari memajukan sedikit bibir bawahnya itu yang seolah terpakasa memberi ijin pada bundanya itu.

Sovia pun kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat terputus pada adzan maghrib tadi.

Kali ini Sovia melanjutkan pada soal ketiga, keempat dan kelima. Setelah dirasa selesai menjawab kelima soal yang ada pada essay CGP, Sovia tak ingin terburu-buru untuk mengirim dan mengklik telah tertidur di sampingnya bersama mainannya yang tumpah ruah berserakan tak menentu. Melihat anaknya yang sudah lelap mungkin karena kelelahan usai mainan itu, hatinya merasa sedih dan bersalah.

“Maafin bunda ya nak, bunda sibuk dari tadi sampai kamu tertidur begini bersama mainanmu” Sovia mengecup kening anaknya dan lekas membawanya masuk ke kamar.

“Ayah, bunda boleh minta tolong tidak yah? Tolong essay yang sudah bunda ketik dicekkan yah, siapa tahu ada kata yang kurang pas atau salah-salah katik. Hhhee. Terima kasih ayah sayang” tutur Sovia seolah memaksa pada suaminya itu.

Suami Sovia yang saat itu tengah menonton bola di televisi pun mengiyakan dan meraih leptop untuk memenuhi permintaan istrinya itu. Namun Sovia sedikit kesal, karena sudah hampir lima belas menit lamanya, rupanya meski leptop telah dipegang sang suami namun pandangannya tetap kedepan memperhatikan kemana arah bola ditendang. Sovia seolah meradang pada suaminya malam itu. Akan tetapi ia tak bisa berkata banyak. Karena memang laki-laki ketika sudah menonton bola maka perhatiannya akan terbagi pada bola.

“Ayahhhh” panggil Sovia pada suaminya.

“Eh, ia bund. Maaf maaf. Ini masih nanggung sebentar lagi selesai bund” ucap suami Sovia

Sekesal-kesanya Sovia pada suaminya, namun Sovia tetap bersyukur. Karena suaminya mau membantunya dan juga mau diajak kerja sama.

Setelah acara bola selesai, fokus suami Sovia pun beralih pada layar monitor leptop yang ada di depannya. Suami Soviapun melaksanakan apa yang diminta Sovia. Mengoreksi, memberi saran dan membetulkan jika ada yang salah pada isian essay Sovia.

Malam itu mata Sovia sudah mulai berat dan mengantuk. Ditahannya meski berat, karena ia tak ingin meninggalkan suaminya terjaga seorang diri sementara ia tertidur lelap.

“Sudah bund. Terus langkah selanjutnya apa bund? Dikirim?” Tanya suami Sovia.

“Jangan dulu yah, kirimnya besok saja. Bunda mau Tanya teman-teman bunda dulu yah” jawab Sovia.

“Begitu? Ok. Terserah bunda saja”

Sebelum Sovia mengakhiri aktivitasnya dengan tidur, Sovia membuka smartphone miliknya dan dilihatnya grup telegram miliknya, barang kai ada info yang belum ia lihat.

“Rupanya banyak juga teman-teman yang belum selesai menjawab essay CGP. Ah, sudahlah. Jangan buru-buru ah” gumam Sovia

                                                              ***

Novel Februari Ceria hari Ke-16 : Sebuah perjalanan Yang Mereka Sebut Guru Penggerak

 

PENGISIAN ESSAY CALON GURU PENGGERAK

Usai huvoria pengumuman kelulusan PPPK tahap II hari kemarin, Sovia dan beberapa temannya kembali disibukkan dengan persiapan pemberkasan. Rupanya perjalanan Sovia dan rekan-rekannya belum selesai. Masih ada satu tahapan lagi yaitu pemberkasan. Sambil menunggu kabar pemberkasan, Sovia kembali melanjutkan oendaftaran calon guru penggerak. Dibukanya leptonya sore itu, mumpung hari itu adalah hari jum’at, Sovia libur tidak berangkat mengajar di taman pendidikan al qur’an (TPQ).

Kata demi kata mulai ia susun untuk menjawab essay yang ada di portal guru penggerak melalyui akun SIMPKB miliknya. Sovia berfikir entah apakah yang tengah ia lakukan sekarang ini membawa dampak baik atau tidak. Dia sadar bahwa pengalamannya belum begitu banyak, hanya keinginannya untuk belajar memanglah besar. “tak apalah, toh syarat mengikuti CGP adalah minimal telah memiliki lima tahun masa kerja. Dan tahun ini adalah tahun keenam bagiku menjadi seorang pengajar. Ku ceritakan saja apa adanya, yang sudah pernah aku alamai di enam tahun kemarin. Kalau mengarang indah sepertinya akan sulit” begitu pikir Sovia ketika menjawab pertanyaan essay CGP.

Dipertanyaan pertama ia diminta untuk menuliskan movivasi mengikuti CGP. Ia pun menuliskan bahwa motivasinya mengikuti CGP adalah pertama, karena ingin bisa meningkatkan kompetensi diri sebagai seorang guru di masa sekarang dan yang akan datang. Yang perlu dilakukan dalam mewujudkan motivasi tersebut adalah dengan terus semangat belajar dimanapun dan kapanpun. Kedua, adanya keinginan untuk selalu belajar hal baru dan terus memperbaiki diri. Yang perlu dilakukan dalam mewujudkan motivasi tersebut adalah selalu turut aktif jika ada program belajar yang datang dari manapun, baik dari dunia nyata (tatap muka seperti seminar) maupun melalui media internet. Ketiga, ingin menjadi guru yang selalu bisa membantu siswa ketika mereka mendapatkan masalah belajar, karena melalui guru penggerak ini akan ada banyak ilmu yang akan ia dapatkan untuk bisa membatunya dalam menyelesaikan masalah belajar siswa.

Selain itu Sovia pun diminta untuk menceritakan kelebihan apa yang telah ia miliki sebagai seorang guru. Ia bingung untuk menjawabnya. Namun ia harus bisa menjawab sebisa mungkin. Ia pun mulai kembali menarikan jemarinya diatas keyboard leptop miliknya. Kata demi kata ia susun hingga membentuk rangkaian kalimat yang indah. Baginya, menjawab essay CGP sama halnya dengan curhat. Iakembali teringat pada perkataan Bu Uswatun rekan Sovia yang berasal dari Madura tempo hari itu. Menjawab Essay CGP sama halnya dengan seseoang yang tengah curhat mengenai suatu hal atau membuat karangan indah. Karena dengan begitu jawaban seorang CGP akan lebih menjiwai dan memiliki bobot karena diambilkan dari kisah nyatanya.

Ketika Sovia diminta menuliskan perubahan apa yang telah ia lakukan dalam pembelajaran yang pernah ia lakukan, ia pun kembali bingung. Karena sebelumnya ia belum pernah membuat perubahan yang luar biasa. Yang membuat orang lain terkagum-kagum dan tercengang melihat atau mendengarnya. Ia pun hanya menuliskan hal yang pernah ia lakukan saja, yaitu mengajar dengan menggunakan media LCD proyektor, menggunakan teknik permainan dalam pembelajaran seperti pada hafalan perkalian dan teknik pengajaran jarak jauh yang ia gunakan selama masa pandemic Covid 19 kemarin.

Bersambung ...

Minggu, 19 Februari 2023

Novel Februari Ceria Hari ke 15 " Sebuah Perjalanan Yang Mereka Sebut Guru Penggerak"

 Lanjutan ...

“ayahhhhhh” teriak Sovia pada suaminya itu

“Kenapa bund” Tanya suami Sovia pada dirinya itu

Sovia tak banyak berkata. Segera ia tunjukkan smartphone miliknya. Suaminya pun terkaget tiba-tiba Sovia langsung menyodorkan hendphone kepadanya.

Sesaat setelah mencerna apa yang ia baca. Suami Sovia langsung memeluk dan mencium kening istrinya itu.

“Alhamdulillah, bunda lolos dan mengisi formasi. Selamat ya bunda” bisik suami sovia pada istrinya yang dicintainya itu.

Sovia pun lantas sujud sukur atas segala nikmat yang baru saja ia dapatkan itu. Bibirnya tiada henti mengucapkan tahmid dan takbir. Hatinya merasakan kebahagiaan yang luar biasa sore itu. Mimpi yang selama ini ia impikan kini telah terwujud. Lulus menjadi seorang aparatur sipil Negara.

“Yah, pagi tadi kita bersedih, tapi sore ini Allah langsung menggantinya dengan sesuatu yang luar biasa. Janji Allah itu nyata ya yah. Allahu akbar, ayah…” terdengar suara isak Sovia seraya menutup wajahnya denga kedua tangannya itu.

“Banyak-banyak bersyukur bunda, Allah mengabulkan satu keinginan bunda. Allah tidak mengabulkan semua permintaan kita dalam satu waktu. Allah menunjukkan kuasaNya pada kita bund. Tetaplah menjadi manusia yang rendah hati, jangan sombong dan pandai bersyukur ya bund. Ayah sayang bunda” ucap suami Sovia sambil memeluk istrinya itu.   

“Yah, kabar teman-teman bagaimana ya yah?” Tanya Sovia.

“Kita cek saja bund di pengumuman itu” jawab suami Sovia

Sejenak Sovia dan suami mengecek beberapa nama teman Sovia. Didapatinya beberapa nama teman Sovia pun lulus dan mengisi formasi. Ia kembali mengucap tahmid, akhirnya banyak dari rekannya yang juga lolos di seleksi tahap II ini. Tiba-tiba smartphone Sovia kembali menerima pesan masuk. Rupanya ada bu ira, rekannya yang dulu mengabdi bareng di sekolah lamanya itu.

“Assalammu’alaikum Bu Sovia, selamat ya Bu atas kelulusannya. Turut senang melihat pengumumannya Bu”

“Wa’alaikumsalam, terima kasih Bu Ira. Selamat juga untuk Bu Ira. Akhirnya kita bisa sama-sama lulus meski dengan cara yang tak sama bu. Nikmat tenan ya bu. Bismillah semoga kita berhasil sukses sampai pemberkasan Bu. Amin” balas Sovia pada sahabatnya itu.

Tak lama setelah Sovia dan Bu Ira berbalas pesan. Tiba-tiba ada pesan masuk lagi dari Bu hasna Jepara. Rekannya yang tempo hari tak bisa ikut seleksi di tahap I. Isi pesannya menanyakan kabar dan bagaimana hasil pengumuman Sovia. Disampaikan pula bahwa dirinya lulus dan mengisi formasi di sekolah induknya sekarang.

“Alhamdulillah, saya juga lulus dan mengisi formasi Bu Hasna. Akhirnya air mata kita tempo hari terbalas dengan senyum bahagia hari ini bu”  balas Sovia.

“Iya Bu Sovia. Allah memang punya cara sendiri untuk kita Bu. Selamat untuk kita berdua Bu. Hehhee “

Sovia yang tak ingin melewatkan momen bahagia ini pun, ia bergegas berlari membagikan kabar bahagia ini dengan seluruh keluarganya. Ia percaya bahwa keberhasilannya hari ini juga tak lepas berkat do’a dari orang-orang yang ia cintai, diantaranya yaitu keluarga terlebih orang tuanya.

“Ternyata memang benar, ketika kita ikhlas seikhlasnya pada ketetapan Allah, maka allah akan mengatur segalanya dengan penuh indah juga rahasia. Tak perlu kita turut mendekte Allah. Dia  sangat tahu dari segala apa-apa yang ada di bumi dan di angkasa. Maha bijak dalam mengatur setiap makhluknya. Terima kasih ya Allah. Teruslah tuntun aku untuk menjadi hamba yang Engkau cinta. Amin” gumam sovia dalam hatinya seorang diri.   


Novel Februari Ceria hari Ke-28 "Sebuah perjalanan Yang Mereka Sebut Guru Penggerak"

  PENGUMUMAN SELEKSI TAHAP II Desis angin malam itu terasa dingin seolah menusuk tulang masuk menembus melalui lubang jendela rumah Sovia....